Postingan

S1/E3 : Kelaparan dalam Ancaman

Gambar
S1/E3: Kelaparan dalam Ancaman gartawara entertainment Posd kembali membuka pintu, namun ia mendapati kenyataan pahit: kamarnya tak lagi sama. Ia mencoba mengulang tindakan tersebut—menutup dan membuka pintu berulang kali—berharap ruang pribadinya kembali. Namun hasilnya nihil.  Seolah-olah ada kekuatan dari luar yang sengaja mempermainkan realitas dan menjebaknya dalam anomali ini. Di hadapannya kini terbentang lorong panjang yang monoton. Setiap sisinya hanya berisi barisan pintu yang identik. Posd mencoba membukanya satu per satu hingga napasnya tersengal karena kelelahan. Di balik tiap pintu, ia hanya menemukan ruangan kosong tanpa furnitur, hanya dinding bata merah yang dingin. Lorong itu berujung pada sebuah persimpangan, namun konsepnya tetap sama: labirin tanpa akhir yang menyesatkan. (lantai 5 : ilustrasi) Posd terus berjalan hingga ia kehilangan arah sepenuhnya. Rasa lapar dan haus mulai menggerogoti pertahanannya. Ia berharap menemukan satu saja p...

S1/E3 : Kehilangan Memori

Gambar
S1/E3 : Kehilangan Memori gartawara entertainment Rasa hangat yang tiba-tiba di pundaknya terasa seperti sengatan listrik. Sasha tersentak, tubuhnya berputar cepat sementara jeritan kecil lolos dari kerongkongannya. Jantungnya bertalu hebat, memompa adrenalin ke seluruh tubuh yang masih terasa kaku. ​"Tenang, Nak. Ini kakek..." sebuah suara parau namun lembut memecah ketakutannya. ​Di hadapannya berdiri seorang pria lanjut usia dengan gurat wajah sedalam palung laut, namun matanya memancarkan keteduhan. "Nama kakek Sidiq, tapi orang-orang sini biasa panggil Wak Sidol." ​Wak Sidol tidak membiarkan ketakutan Sasha berlarut. Ia mengajak Sasha ke teras depan. Meskipun angin membawa tempias hujan yang mulai membasahi lantai kayu, Wak Sidol bersikeras agar mereka duduk di sana. ​"Lihatlah hujan itu," bisik Wak Sidol sembari mendudukkan diri di kursi kayu tua yang berderit. "Terkadang, air yang jatuh bisa mencuci kegelisahan, jika kita mengizinka...

S1/E2 : Sebelum Sendiri

Gambar
S1/E2 : Sebelum Sendiri gartawara entertainment Di lembah paling dalam dari rangkaian gunung utara, berdirilah HEMSTEM—sebuah metropolitan kelas rendah yang selalu tampak lebih besar daripada denyut hidup di dalamnya. Kota ini memiliki gedung-gedung tinggi, tapi jendelanya jarang menyala. Jalan-jalannya luas, namun langkah manusia selalu terasa sedikit terlalu sunyi. HEMSTEM tampak megah… tapi jarang benar-benar hidup. Kabut lembah turun hampir setiap malam, merayap di antara menara kusam dan lorong-lorong sempit tempat komunitas-komunitas bawah tanah beroperasi di bawah bendera kelompoknya masing-masing. Konsep, ideologi, dan ambisi bertabrakan, tapi kota tetap berjalan seolah semuanya sudah disepakati. Di sini, kekuasaan tidak diteriakkan—ia dibisikkan dari balik pintu logam dan jendela buram. HEMSTEM bukan kota gemerlap seperti Kota metropolitan megah. Cahaya di sini redup, hemat, dan seakan takut mengusik sesuatu yang mengawasi dari balik bayangan. Orang-orang bilang le...

S1/E2 : Konsep Realita

Gambar
S1/E2 : Konsep Realita gartawara entertainment Kini posd masih menahan tombol naik pada elevator sembari memperhatikan tiap cahaya yang lewat melalui pintu elevator, beberapa ada yang berwarna merah, terkadang tidak ada lampu dan terkadang tiba-tiba saja terjadi gempa bumi. Sembari mencari lantai-lantai guna mendapatkan makanan, Posd mulai berfikir apakah dirinya sudah mati? karena seharusnya jika ini mimpi ia terbangun sesaat setelah monster aneh muncul sebelumnya. Tetapi Posd ragu, keraguan tersebut membuat Posd menekan tombol terlalu kuat karena dari dalam pikirannya masih ada informasi tumpang tindih antara nyata atau tidak. Kemudian Posd menyadari warna lampu dibalik pintu elevator memiliki gambaran mirip seperti di apartemen rumahnya waktu itu. Posd yang sembari menekan tombol mendekatkan wajahnya ke pintu, melihat tembus untuk menghilangkan kabut transparan pintu yang menghalangi rasa penasaran. Dan terungkap jika itu memang benar kamarnya Posd, Posd akhirnya melepas...

S1/E1 : Max dan Koki roti

Gambar
S1/E1 : Max dan Koki roti gartawara entertainment karya oleh : kumoshiroi7 Siang itu terasa menyengat. Matahari menggantung tinggi di atas kota yang tak pernah benar-benar diam. Suara pedagang bersahutan, pembeli menawar dengan nada keras, dan dentingan koin beradu menjadi irama khas pasar.  ‎ ‎Hiruk-pikuk itu menyatu, membuat kota tampak seperti makhluk hidup yang terus bergerak tanpa lelah. ‎ ‎Di tengah keramaian tersebut, seorang remaja berdiri mematung. ‎Rambutnya agak keabu-abuan, kontras dengan jaket merah berbahan polyester fleece yang ia kenakan.  ‎ ‎Celana hitam membungkus kakinya, dan sebuah tas yang tampak cukup berat tergantung di punggungnya.  ‎ ‎Matanya menyapu sekitar dengan ekspresi tercengang. ‎ ‎“Wah… ramainya…” gumamnya pelan. ‎Ia menggaruk pipinya, sedikit kikuk. ‎“Hmm… kalau terus diam di sini, aku bisa lupa tujuan,Lebih baik langsung ke pelabuhan saja.” ‎ ‎Dengan langkah mantap—meski masih sedikit ragu—ia menuju Pelabuhan Tanjung Ynopeew....

S1/E2 : Kebingungan Di Bawah Hujan

Gambar
S1/E2 : Kebingungan Di Bawah Hujan gartawara entertainment Sasha tidak ingin merepotkan siapa pun. Setelah tertinggal dari bus yang harusnya membawanya pulang, ia memilih untuk berjalan menyusuri trotoar, berharap ada keajaiban kecil: mungkin bus itu kembali lewat dan ia bisa mengejarnya. Namun belasan menit berlalu, tak satu pun bus terlihat. Hanya motor—motor asing yang melintas terlalu dekat, menimbulkan rasa tidak nyaman yang perlahan berubah menjadi kecemasan. K bagaimana kalau ada orang jahat lewat? Bagaimana kalau aku diculik? Pikiran—pikiran itu mulai menyesakkan dadanya. Sasha meneguk air minum dari botolnya, habis dalam sekali tegukan. Kerongkongannya kering, tubuhnya sedikit gemetar karena kelelahan dan dehidrasi. Ia ingin minum lagi, tetapi menahan diri—persediaannya terbatas. Di tengah langkahnya yang mulai gontai, Sasha melihat sebuah papan petunjuk: Halte Bus ± 500 m → ke kiri Dengan sisa semangat yang ada, ia menuruti arah papan itu. Namun setelah berbelok, ...

ZBS 3 : Seven Scion

Gambar
gartawara entertainment 2026 Info penting : meskipun secara judul ini spin-off ke-3 dari novel ZBS1 (2023) & ZBS2 (2024), secara naratif ini merupakan perombakan cerita baru. ZBS3/GARTAWARAVERSE/2026/ZBS/TIMELINE/3/2022/S/BC Setelah insiden di museum 7 tahun yang lalu, Sasha Shafira kini berusia 19 tahun dan telah lulus dari SMA nya sebagai murid dengan rata-rata nilai tidak maksimal. Sasha kembali ke rumah kos-kosanya, dikarenakan ia bersekolah cukup jauh.  Sesampainya di rumah, Sasha mengeluarkan kunci dari sakunya yang ia gunakan untuk membuka pintu. Tampilannya sederhana, sebuah ruangan putih kecil minimalis dengan 1 lampu penerang, Di sisi belakang terdapat satu ruangan terpisah untuk tempat mandi dan dapurnya, sedangkan di sisi belakangnya lagi adalah ruangan layaknya teras belakang yang memungkinkan Sasha untuk menjemur pakaian atau melihat sinar matahari. Sebuah matras kecil yang tersandar didinding, sekumpulan buku tulis maupun cetak, kabel list...