S1/E1 : Max dan Koki roti



S1/E1 : Max dan Koki roti
gartawara entertainment
karya oleh : kumoshiroi7

Siang itu terasa menyengat. Matahari menggantung tinggi di atas kota yang tak pernah benar-benar diam. Suara pedagang bersahutan, pembeli menawar dengan nada keras, dan dentingan koin beradu menjadi irama khas pasar. 
‎Hiruk-pikuk itu menyatu, membuat kota tampak seperti makhluk hidup yang terus bergerak tanpa lelah.
‎Di tengah keramaian tersebut, seorang remaja berdiri mematung.
‎Rambutnya agak keabu-abuan, kontras dengan jaket merah berbahan polyester fleece yang ia kenakan. 
‎Celana hitam membungkus kakinya, dan sebuah tas yang tampak cukup berat tergantung di punggungnya. 
‎Matanya menyapu sekitar dengan ekspresi tercengang.
‎“Wah… ramainya…” gumamnya pelan.
‎Ia menggaruk pipinya, sedikit kikuk.
‎“Hmm… kalau terus diam di sini, aku bisa lupa tujuan,Lebih baik langsung ke pelabuhan saja.”
‎Dengan langkah mantap—meski masih sedikit ragu—ia menuju Pelabuhan Tanjung Ynopeew. 
‎Ia pun melanjutkan perjalanannya Namun baru beberapa langkah, sebuah suara memanggilnya.
‎“Hai, Nak! Kemarilah sebentar!”
‎Ia menoleh. Seorang pria berpakaian koki berwarna putih,dan topi koki yang sedikit miring ke kanan,koki tersebut berdiri di depan sebuah toko roti kecil miliknya, melambaikan tangan dengan senyum lebar.
‎Remaja itu terkejut, dan menunjuk dirinya sendiri.
‎“Aku…?”
‎“Iya, kau! Kemarilah.”
‎Ragu sesaat, ia akhirnya mendekat.
‎“I-iya, Paman… ada apa?” tanyanya hati-hati.
‎Tanpa banyak basa-basi, sang koki menyodorkan sepiring roti hangat. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya.
‎“Ini untukmu.”
‎“Hah?” Ia berkedip bingung. “A-apa maksudnya?”
‎“Untukmu. Jangan malu-malu.”
‎“T-tapi… aku tidak punya uang.”
‎Koki itu tertawa kecil. “Siapa bilang harus bayar? Sudah, ambil saja. Dan Masuklah ke dalam. Duduk sebentar. Akan kuambilkan teh juga.”
‎Sebelum ia sempat menolak lagi, sang koki sudah masuk ke dalam toko. Remaja itu berdiri beberapa detik, lalu mendesah pelan dan mengikuti.
‎Begitu melangkah masuk, suasana berubah drastis. Kebisingan kota seperti teredam oleh dinding hangat toko roti itu. Meja dan kursi tertata rapi. Musik lembut mengalun pelan, membuat suasana terasa nyaman.
‎Ia meletakkan tasnya di lantai dan duduk. Roti di hadapannya tampak menggoda, tetapi ia masih ragu untuk menyentuhnya.
‎Tak lama kemudian, sang koki kembali membawa dua cangkir teh.
‎“Makanlah. Kau terlihat lelah,” ujarnya sambil duduk di seberang.
‎Remaja itu akhirnya mengangguk. Ia mengambil roti itu dan menggigitnya.
‎“…!”
‎Matanya melebar.
‎“Wah… ini enak sekali! Rasanya pas!” serunya spontan.
‎Koki itu terkekeh. “Hahaha, reaksimu berlebihan sekali.”
‎“Tidak! Ini benar-benar enak,” balasnya cepat, sambil tersenyum lebar.
‎Sang koki menyesap tehnya pelan. 
‎“Ngomong-ngomong, siapa namamu?”
‎Remaja itu buru-buru menelan roti yang masih ada di mulutnya.
‎“Ah! Maaf, Paman. Aku sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku Max de Offon.”
‎“Max, ya? Nama yang unik.”
‎Koki itu memiringkan kepala. “Kau berasal dari mana?”
‎“Dari Berin. Tapi sekarang aku tinggal bersama bibiku di Reoghase.”
‎“Berin…” Sang koki tampak berpikir. “Bukankah itu desa yang pernah dirusak para-para bandit?”
‎Max hanya mengangguk pelan. Senyumnya tipis, hampir tak terlihat.
‎“Ah, aku juga belum memperkenalkan diri,” lanjut sang koki. “Namaku Gamo Hanasuko.”
‎“Senang bertemu denganmu, Paman Gamo.”
‎Percakapan mereka mengalir begitu saja. Entah mengapa, suasananya terasa akrab meski baru saling mengenal,lalu koki tersebut, bertanya kepada max.
‎"kamu sebenarnya ingin kemana"
‎"aku ingin ke pusat untuk menemui ayah,dan beliau adalah seorang tentara disana".
‎"oh__ begitu" jawab singkat koki.
‎Tiba-tiba Max mencondongkan tubuhnya sedikit.
‎“oh iya,Paman… Paman tahu tentang sembilan kristal legenda?”
‎“Kris­tal?” Gamo mengangkat alis.
‎“Katanya itu benar-benar ada. Dan… ada yang pernah melihat elf juga.”
‎Gamo tertawa kecil. “Tunggu, kau sedang membicarakan kristal atau elf?”
‎“Dua-duanya,” jawab Max cepat. “Aku penasaran saja.”
‎“Setahuku itu hanya cerita untuk anak-anak. Sebagian orang memang percaya… tapi bagiku, itu cuma rumor.”
‎Ia menatap Max sebentar. “Kalau kau ingin tahu kebenarannya, carilah sendiri.”
‎Max tersenyum kecil. “Baiklah.”
‎Obrolan mereka berlanjut sampai tanpa sadar Max melirik jam dinding.
‎Jarum pendeknya menunjuk angka satu lewat setengah.
‎“…Eh?”
‎Ia membelalak.
‎“Astaga! Sudah jam segini?! Aku bisa ketinggalan kapal!”
‎Ia buru-buru berdiri dan meraih tasnya.
‎“Tenang saja,” kata Gamo santai. “Kapal biasanya berangkat jam tiga sore. Kau masih punya waktu.”
‎Ia tersebut bangkit dan berjalan ke dapur. Beberapa saat kemudian, ia kembali membawa sebuah kantong kulit kecil.
‎“Ini untukmu.”
‎Max terdiam. “Tapi, Paman—”
‎“Sudah. Anggap saja bekal perjalananmu. Memang hanya roti, tapi setidaknya tidak akan membuatmu kelaparan.”
‎Max menerima kantong itu dengan kedua tangan.
‎“Terima kasih banyak… Paman.”
‎Ia melangkah keluar toko, namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti dan menoleh.
‎“Paman… aku akan kembali. Jika kita bertemu lagi, aku akan membeli rotimu.”
‎Gamo tersenyum, mengangguk pelan.
‎Dan di tengah keramaian kota yang tak pernah berhenti bergerak, sosok Max perlahan menjauh—hingga akhirnya hanya menjadi bayangan kecil di kejauhan.
____________________________________

Bab 1 tamat

Terimakasih


🔍 Link tree 🔎

https://linktr.ee/gvochanel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S1/E4 : Bidang cahaya

ZBS 3 : Seven Scion

S1/E1 : Tempat tinggal baru