S1/E4 : Bidang cahaya

S1/E4 : Bidang cahaya
gartawara entertainment

Pagi itu menyelinap masuk perlahan, lebih tenang dari biasanya. Puppet membuka mata, merasakan cahaya mentari menembus celah gorden, membelai wajahnya dengan kehangatan lembut. Ia bangun sedikit lebih lambat dari hari-hari sebelumnya, menikmati ketenangan yang jarang ia rasakan.

Ketika Puppet melangkah ke dapur, sebuah pemandangan menarik menyambutnya. Zect, dengan dahi berkerut dan napas memburu, sedang bergumul dengan selang kompor. Di kakinya, sebuah tabung gas elpo lm bgttiji yang gempal tampak seperti musuh yang enggan bekerja sama. Postur Zect yang kecil, tak sebanding dengan bobot tabung, membuat usahanya terlihat lucu sekaligus menyedihkan. Ia mendengus, menyerah, dan mengaku, "Aku tidak mungkin bisa mengangkat benda seberat ini sendirian."

Tak lama kemudian, Paman Evelyn muncul, rapi dalam pakaian kerjanya, siap berangkat ke bengkel gerabahnya. Melihat perjuangan Zect, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Dengan satu gerakan mudah, Paman Evelyn mengangkat tabung gas itu seolah tak berbobot, lalu dengan cekatan memasangkan selang kompor. Suara gas yang mengalir pelan menjadi tanda keberhasilan.

Puppet menyaksikan semua itu dengan takjub. Kekuatan Paman Evelyn yang effortless, kemahirannya dalam melakukan hal sederhana, adalah sesuatu yang baru baginya. Ia mulai mengerti, ada banyak hal di dunia manusia yang memerlukan kekuatan dan keterampilan fisik yang berbeda. "Keren sekali!" seru Puppet, matanya berbinar. "Kalau begitu, apakah aku juga boleh membantu?"

Paman Evelyn tertawa renyah, menepuk puncak kepala Puppet. "Tentu saja, Nak. Hati-hati dan berkeinginan menolong, itu sudah bagus. Tapi untuk pekerjaan seperti ini, kau perlu belajar lebih banyak lagi dari kami." Puppet mengangguk setuju, tekadnya untuk memahami dunia manusia semakin kuat.

Mereka pun berkumpul di meja makan. Aroma nasi hangat dan lauk sederhana mengisi udara. Namun, suasana sarapan yang tenang tak bertahan lama. Paman Evelyn melirik jam dinding, matanya membelalak. "Astaga! Paman terlambat!" Dengan buru-buru, ia menenggak habis minumannya, berpamitan secepat kilat, dan menghilang dari pintu. Puppet dan Zect melambaikan tangan, lalu kembali masuk ke dalam rumah.

Di ruang keluarga, Aloca baru saja muncul dari kamarnya, dengan rambut acak-acakan dan mata yang masih setengah terpejam. Melihatnya, Zect menghela napas.

"Zect," Puppet memulai, menarik perhatian Zect. "Aku perlu sesuatu yang bisa membuatku sibuk. Selama ini, aku hanya membaca buku catatanku." Puppet menatap Zect dengan tatapan ingin tahu. "Bagaimana kalau aku yang memasak makan siang hari ini?"

Zect tersenyum kecil. "Wah, itu ide bagus, Puppet. Tapi kurasa, itu belum bisa kamu lakukan sekarang. Kamu belum begitu paham cara kerja dapur manusia, atau bagaimana bahan makanan di sini." Ia berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang lebih mudah? Ikut aku ke halaman."

Zect mengajak Puppet ke halaman belakang, mengambil dua sapu lidi dari pojok teras. Ia memberikan salah satunya kepada Puppet. "Tugasmu hari ini: bersihkan halaman! Dedaunan kering dan beberapa plastik itu perlu disapu bersih."

Puppet awalnya ragu. Pekerjaan menyapu terasa asing dan canggung. Namun, mengingat alasannya untuk belajar dan karena menyapu adalah satu-satunya hal "manusiawi" yang pernah diajarkan padanya, Puppet tidak bisa menolak. Dengan sedikit canggung, ia mulai mengayunkan sapunya, mengikuti jejak Zect yang sudah lebih dulu memulai.

Menit-menit berlalu, diselingi suara gesekan sapu dan desiran daun kering. Puppet dengan cermat mengamati **pola dedaunan** yang jatuh berserakan, bagaimana setiap ayunan sapunya mengumpulkannya menjadi tumpukan. Ada sesuatu yang menarik dalam **alur gerakan** dan **bentuk tumpukan** itu. Setelah beberapa waktu yang lumayan lama, Puppet akhirnya menyelesaikan tugasnya. Halaman kini bersih, dan di tengah lapangan, sebuah **tumpukan rapi dedaunan kering dan beberapa sampah plastik** berdiri tegak, hasil karyanya.

Saat Puppet menyaksikan hasil kerjanya, sebuah panggilan terdengar dari dalam rumah. "Puppet! Ke sini sebentar!" Itu suara Zect. Puppet segera bergegas masuk. Ternyata Zect meminta tolong untuk membawakan teko plastik berisi teh panas ke teras.

Puppet kembali ke teras, menaruh teko itu di meja kecil. Tak lama kemudian, Zect tiba dengan wadah penuh pecahan es batu. Sebuah senyum merekah di wajahnya. "Ini, teh dingin untukmu! Selamat datang di klub 'Pekerja Keras Zect'!" Rupanya, Zect tengah menyiapkan tempat istirahat nyaman untuk Puppet, sebagai apresiasi atas tugas pertamanya yang berhasil diselesaikan.

Sambil menikmati teh dingin mereka, Puppet teringat sesuatu. "Aloca... dia di mana?" tanyanya.

Zect menghela napas berat. "Seharusnya dia yang membantuku menyiapkan semua ini," gumamnya. "Tapi entah mengapa, Aloca masih saja terlihat kesal. Dia pergi keluar entah ke mana, tanpa pamit sedikit pun. Tapi aku yakin, nanti juga dia akan kembali seperti biasanya."

Saat itu juga, Puppet merasakan sesuatu yang menyilaukan matanya secara samar-samar. Sebuah titik cahaya menari di pandangannya. Matanya mengikuti sumber kilauan itu, lalu terbelalak.

Tumpukan sampah dedaunan, plastik, dan lain-lain yang tadi ia kumpulkan dengan susah payah, **tiba-tiba saja terbakar!** Asap tipis mengepul, dan lidah api kecil mulai menari di antara dedaunan kering.

"API!" Zect berteriak. Sebelum api membesar lebih buruk, ia dengan sigap menyambar selang air terdekat dan berlari menuju sumber api.

Puppet berdiri terpaku, bingung bagaimana dedaunan itu bisa terbakar begitu saja. Di dunianya, api hanya muncul dari sumber yang jelas. Zect juga kebingungan. Namun, Puppet dengan cepat menyadari sesuatu yang aneh. Setelah Zect menyiramkan air, api meredup, tetapi **sebuah titik cahaya kecil yang nampak seperti api tetap utuh** di tengah-tengah abu pembakaran. Setelah mengamati lebih seksama, Puppet menyadari itu adalah **cahaya optik yang terfokus** ke tumpukan sampah sebelumnya.

"Apakah hal ini berbahaya?" tanya Puppet, suaranya sedikit gemetar.

Zect mencoba menenangkan, meskipun ekspresi wajahnya sedikit ragu. "Ah, ini tidak terlalu berbahaya, Puppet. Hanya bisa membakar benda-benda super kering dan rawan seperti dedaunan, kertas, plastik. Kalau dibiarkan mengenai benda tebal seperti dinding rumah kayu ini, tidak akan terjadi apa-apa." Zect berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Namun, seiring detik berlalu, senyuman percaya diri Zect perlahan memudar, terganti dengan ekspresi cemas. Matanya mengikuti titik cahaya yang kini menempel di tanah, perlahan tapi pasti, **bergerak maju**.

Kepanikan Zect memuncak saat ia menyadari ke mana **"lompatan" cahaya** itu mengarah. "Lihat, Puppet! Kalau dia terus melangkah seperti itu... dia akan sampai ke dinding rumah!" Ia menghitung cepat dalam benaknya: satu lompatan, dua lompatan... "Itu hanya **beberapa lompatan lagi** sampai ke dinding ini!"

Zect tahu ada **lubang-lubang kecil** di dinding kayu itu, celah yang bisa menjadi pintu masuk bagi sinar panas. Pikirannya melayang pada konsekuensi terburuk: silau yang membahayakan mata, atau bahkan percikan api kecil yang tidak terdeteksi di dalam rumah. Yang tidak mereka sadari, jauh di dalam rumah, di balik lubang yang rentan itu, ada sebuah **tabung gas** dengan pelindung yang rapuh. Sebuah **garis lurus proyeksi** yang tak terlihat, jika terus bergeser, bisa mengarah langsung ke sana, memicu bencana yang jauh lebih besar.

"Kita harus menghentikan **garis lompatannya** sebelum dia mencapai titik fatal!" seru Zect, menarik lengan Puppet.

Mereka berdua mendongak, mata mereka mengikuti **garis lurus** tak terlihat dari sinar panas itu, terus ke atas dan menjauh, mencari sumbernya. Jauh di sana, di balik siluet kota Metro, Zect menangkap kilatan yang sangat menyilaukan. Bukan kilatan biasa, tapi seperti **titik bintang yang sangat terang** dari kejauhan.

"Itu... itu dari gedung tinggi itu!" Zect menunjuk. "Gedung pencakar langit yang kacanya melengkung itu! Pasti itu **kaca pembesar raksasa**!"

Puppet mengernyit, memproses informasi itu. Kilasan ingatan samar melintas di benaknya. Di dunianya, ia pernah melihat **permukaan yang melengkung** bisa **mengumpulkan energi** atau **membiaskannya** ke satu titik kecil. Seperti **sebuah busur yang mengumpulkan anak panah ke satu sasaran**. Namun, cahaya dari gedung itu memang terang, tapi terlalu lebar untuk membakar daun sekecil itu dari jarak sejauh itu.

Puppet tersentak. **Di dunianya, cahaya yang dipantulkan dari jarak sangat jauh, jika ingin menjadi sangat kecil dan panas di satu titik, pasti ada sesuatu yang 'melengkung' lagi di tengahnya!** Sesuatu yang lebih dekat, yang bekerja seperti **'kaca pembesar kecil'**!

Mata Puppet melesat kembali ke arah pohon di dekat halaman, mencari di jalur **garis lurus** dari kilatan gedung ke titik terbakar. "Di sana!" teriaknya, menunjuk ke sebuah cabang pohon mangga yang menjuntai. "Ada **kaca melengkung kecil**!" Zect mengernyit, dan melihat sebotol minuman bekas yang tersangkut di dahan. Pantulan matahari dari gedung pencakar langit itu tepat mengenai botol tersebut, dan botol itulah yang memfokuskan cahaya menjadi sinar laser panas!

"Itu dia penyebabnya!" seru Zect, segera berlari menuju pohon dan dengan hati-hati menyingkirkan botol itu. Puppet mengikutinya, lega karena masalah "api melompat" ini akhirnya terpecahkan.

Mereka berdua akhirnya bisa bernapas lega. Titik api di tanah telah berhenti. Hari kembali terasa santai. Zect membawa minuman dingin untuk mereka berdua, sementara Puppet meletakkan tas ranselnya di teras, di samping jurnalnya.

"Akhirnya tenang," gumam Zect, menyeruput teh esnya. "Untung kita cepat sadar. Aku penasaran, Puppet, apa lagi yang bisa terbakar kalau kita tidak sadar..."

Puppet mengangguk, ia meraih ranselnya untuk mengambil jurnal. Namun... **tangannya hampa.**

Pupil matanya membesar. Ia melihat ke kiri, ke kanan, di bawah kursi. **Tas ransel dan buku jurnalnya hilang!**

Saat itu juga, Aloca muncul di ambang pintu, napasnya terengah-engah, wajahnya kusut dan ada sedikit tanah di bajunya. Di tangannya, ia memegang sehelai kertas yang kotor dan agak sobek. Itu adalah **salah satu halaman jurnal Puppet**.

"Aloca? Kamu kenapa?" tanya Zect, terkejut melihat kondisi adiknya.

Aloca menunduk, lalu mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Aku... aku tadi..." Ia mengambil napas dalam-dalam. "Aku melihat seseorang mengambil tas Puppet dari sini," katanya putus-asa. "Dia mencurinya dari teras! Aku mengejarnya, tapi... dia terlalu cepat! Ini yang bisa aku selamatkan!" Ia menyodorkan halaman jurnal yang sobek itu kepada Puppet, napasnya masih tersengal.

Puppet menatap halaman jurnalnya yang kini hanya sehelai, lalu ke tempat tas ranselnya seharusnya berada. Ini... ini adalah pukulan telak yang tak terduga. Satu-satunya kunci untuk memahami masa lalunya, kini telah tiada. Keputusasaan yang dalam, lebih hebat dari kepanikan api tadi, membanjiri dirinya.

____________________________________

Chapter 4 tamat

Terimakasih

💵 Dukungan Finansial 💵

https://saweria.co/GARTAWARA



🔍 Link tree 🔎

https://linktr.ee/gvochanel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZBS 3 : Seven Scion

S1/E1 : Tempat tinggal baru