S1/E2 : Sebelum Sendiri


S1/E2 : Sebelum Sendiri
gartawara entertainment

Di lembah paling dalam dari rangkaian gunung utara, berdirilah HEMSTEM—sebuah metropolitan kelas rendah yang selalu tampak lebih besar daripada denyut hidup di dalamnya. Kota ini memiliki gedung-gedung tinggi, tapi jendelanya jarang menyala. Jalan-jalannya luas, namun langkah manusia selalu terasa sedikit terlalu sunyi. HEMSTEM tampak megah… tapi jarang benar-benar hidup.

Kabut lembah turun hampir setiap malam, merayap di antara menara kusam dan lorong-lorong sempit tempat komunitas-komunitas bawah tanah beroperasi di bawah bendera kelompoknya masing-masing. Konsep, ideologi, dan ambisi bertabrakan, tapi kota tetap berjalan seolah semuanya sudah disepakati. Di sini, kekuasaan tidak diteriakkan—ia dibisikkan dari balik pintu logam dan jendela buram.

HEMSTEM bukan kota gemerlap seperti Kota metropolitan megah. Cahaya di sini redup, hemat, dan seakan takut mengusik sesuatu yang mengawasi dari balik bayangan. Orang-orang bilang lembah ini punya caranya sendiri untuk menelan suara, menahan cahaya, dan menyimpan rahasia lebih rapat dari manusia mana pun.

Dan selama bertahun-tahun, ada satu hal yang tak pernah berubah:
setiap minggu, tanpa meleset, terjadi satu kasus misterius yang tak pernah terungkap.
Tidak ada pola. Tidak ada saksi. Tidak ada jejak yang bertahan sampai pagi tiba. Hanya kabut yang lebih tebal dari biasanya dan ketakutan yang kembali membungkus kota.

Di HEMSTEM, semua orang belajar satu hal:
bahwa ada sesuatu di lembah ini yang bekerja lebih halus dari hukum, lebih cepat dari rumor, dan lebih sabar dari waktu.

Dan kota itu…
tetap menatap, tetap menunggu, tetap menyembunyikan rahasianya.

Kemudian kita sampai di sebuah apartemen terbengkalai, seminggu yang lalu tempat ini merupakan pasar, tetapi setelah insiden kebakaran minggu lalu, kini hanya tersisa beberapa pedagang yang masih yakin dengan lokasi pasar yang strategis.

Tetapi hampir 91% dari keseluruhan bangunan pasar ini benar-benar tidak ada ruangan yang terisi, pemilik dari bangunan juga sudah menyatakan perubahan infrastruktur beberapa tahun lagi untuk pasar dihancurkan.

Dalam kisah masalalu nya One ini menampilkan One sedang bermain bola bersama dengan teman-temanya semasa kanak-kanak.

Kala itu hari minggu pukul 1 siang, sekolah memiliki lingkungan yang sempit dan hanya lapangan yang memisahkannya, selain itu tepat di satu sisi lapangan langsung bersentuhan dengan jalan raya.

One dan teman-temannya sudah sering bermain di sini dan merasa tidak mengapa jika mereka hanya bermain di lapangannya.

Sampai tiba-tiba saja bola mereka ditendang One hingga berada ditengah jalan, beberapa mobil akhirnya melindasnya tanpa ampun meninggalkan cangkang plastik penyok.

One gugup, karena bole tersebut merupakan bola milik temanya, dan dengan itu One dimintai pertanggungjawaban untuk menggantikan bolanya.

One lalu membujuk teman-nya untuk sabar dan mencari cara lain selain menggantikan bola tersebut karena One tau jika ia tidak akan pernah diizinkan untuk menggunakan uang apapun dalam kesalahan apapun, One juga takut kepada orangtua nya sehingga masalah ini hanya ia yang mengatasinya.

Temannya lalu memaksa One sampai menarik kerah bajunya dihadapan teman-teman lain, One panik dan menanyakan mengapa?

Tetapi Temannya tersebut emosi sehingga membentak One untuk mengambil bola nya ditengah jalan.

One mulai gugup merasa mata-mata memandanginya, dengan terpaksa akhirnya One mulai menuju ke jalan raya, memperhatikan sekitar dan segera mengambil bola.

Tetapi tanpa ia duga ada sebuah motor ugal-ugalan yang dengan cepat menyambar One, hal itu membuat One terhempas beberapa meter dan cedera parah.

One akhirnya menyadari setelah ia jatuh menghantam aspal, ada banyak sekali luka cedera seperti di lutut, mata kaki, dahi, tangan dan bibirnya.

Perlahan-lahan rasa perih mulai terasa, One akhirnya kesakitan dan menjerit minta tolong. Beruntung warga sekitar ingin menolong One dan melarikannya kerumah sakit terdekat.

One yang panik bisa merasakan keadaan sekitar dilingkungan tersebut, Luka-luka One kemudian dibalut dengan sebuah kapas basah yang dingin, tetapi malah membuat bagian tersebut semakin sakit.

One mengalami hari itu dengan kecewa dan takut, takut akan mati dan tidak melihat semua ini dan kecewa dengan dirinya yang tidak ada landasan kekecewaan apapun.

Waktu demi waktu, One mulai merasa baikan, tetapi ia sendiri di ruanganya, tanpa adanya yang menjenguk sedikitpun.

Lalu One mulai larut dalam kelelahan dan merasa ngantuk, tubuhnya sudah seharian menatap lampu ruangan dan tidak bisa berpaling, akhirnya One tidur

Kemudian kembali ke masa sekarang jauh dari masa-masa itu, setidaknya 13 tahun lalu. One kini mengungkap jika namanya dulu bukan One tetapi Evan dan selesai.

____________________________________

Chapter 2 tamat

Terimakasih

💵 Dukungan Finansial 💵

https://saweria.co/GARTAWARA



🔍 Link tree 🔎

https://linktr.ee/gvochanel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S1/E4 : Bidang cahaya

ZBS 3 : Seven Scion

S1/E1 : Tempat tinggal baru