S1/E3 : Kehilangan Memori
S1/E3 : Kehilangan Memori
gartawara entertainment
Rasa hangat yang tiba-tiba di pundaknya terasa seperti sengatan listrik. Sasha tersentak, tubuhnya berputar cepat sementara jeritan kecil lolos dari kerongkongannya. Jantungnya bertalu hebat, memompa adrenalin ke seluruh tubuh yang masih terasa kaku.
"Tenang, Nak. Ini kakek..." sebuah suara parau namun lembut memecah ketakutannya.
Di hadapannya berdiri seorang pria lanjut usia dengan gurat wajah sedalam palung laut, namun matanya memancarkan keteduhan. "Nama kakek Sidiq, tapi orang-orang sini biasa panggil Wak Sidol."
Wak Sidol tidak membiarkan ketakutan Sasha berlarut. Ia mengajak Sasha ke teras depan. Meskipun angin membawa tempias hujan yang mulai membasahi lantai kayu, Wak Sidol bersikeras agar mereka duduk di sana.
"Lihatlah hujan itu," bisik Wak Sidol sembari mendudukkan diri di kursi kayu tua yang berderit. "Terkadang, air yang jatuh bisa mencuci kegelisahan, jika kita mengizinkannya."
Sasha duduk di sampingnya, jemarinya meremas pinggiran baju yang lembap.
"Siapa namamu, Cu?"
Sasha terdiam sejenak, menggali sesuatu dari dalam kepalanya yang terasa seperti ruang kosong yang luas.
"Sasha... Sasha Safira Sati. Umurku sepertinya sepuluh tahun, dan..." Kalimatnya menggantung. Wajahnya mendadak pias.
"Dan apa?" Wak Sidol menoleh, keningnya berkerut. "Dari mana asalmu?"
Mata Sasha mulai berkaca-kaca.
Ia menggeleng lemah, sebuah isakan kecil tertahan di tenggorokan. "Aku... aku tidak tahu. Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.
Kenapa aku tidak tahu rumahku sendiri?"
Wak Sidol menghela napas panjang, tatapannya kembali ke arah tirai hujan.
"Mungkin karena benturan itu. Saat warga menemukanmu, kepalamu menghantam lantai dengan cukup keras."
"Bagaimana Wak menemukanku?" tanya Sasha lirih, mencari pegangan pada kenyataan.
"Sore itu, saat hujan mulai turun, aku pulang belanja. Di dekat genangan air di tepi teras sana, kau tergeletak tak bernyawa... ah, maksudku tak sadarkan diri. Aku panik, tentu saja. Aku panggil warga, lalu mereka menggotongmu ke tempat kering."
Wak Sidol bercerita bagaimana mereka berdiskusi panjang tentang siapa gadis kecil ini. Tak ada satu pun warga yang mengenali wajahnya. Pak RT pun sudah dikabari, namun identitas Sasha tetap menjadi misteri yang terkunci.
"Lalu... siapa yang merawatku selama aku pingsan?" Sasha menebak, matanya menatap Wak Sidol dengan penuh harap.
Wak Sidol terkekeh kecil, "Siapa lagi kalau bukan kakek tua yang kesepian ini? Aku yang mengajukan diri."
Rasa hangat merayap di dada Sasha, lebih hangat dari sekadar pelukan. "Terima kasih, Wak. Terima kasih banyak sudah menyelamatkanku."
"Ada syaratnya," potong Wak Sidol dengan nada bergurau namun serius. Sasha tersentak. "Selama kau di sini untuk pulih, maukah kau membantuku mengurus rumah saat aku pergi bekerja?"
Sasha mengangguk mantap. Tak ada keraguan. Baginya, tugas rumah tangga adalah harga yang sangat kecil untuk nyawa yang telah diberikan kembali kepadanya.
"Jadi, benar-benar tidak ada yang kau ingat tentang masa lalumu?" tanya Wak Sidol sekali lagi.
Sasha memejamkan mata, mencoba memanggil kembali kepingan memori. "Hanya satu, Wak. Jalanan tanah... diapit ilalang tinggi yang bergoyang ditiup angin. Langit gelap, mau hujan. Aku berlari, berusaha menyelamatkan tas ini..."
"Sulit," gumam Wak Sidol. "Jalanan seperti itu ada di mana-mana. Tapi jangan khawatir, tasmu aman. Ada di samping tempat tidurmu."
Puing-Puing Identitas
Sasha segera berlari ke dalam kamar. Benar saja, tasnya ada di sana. Kondisinya menyedihkan; setengahnya basah kuyup karena pelindung hujannya terlepas saat ia terjatuh.
Wak Sidol berdiri di ambang pintu, memperhatikan Sasha yang mulai mengeluarkan isi tasnya satu per satu dengan tangan gemetar.
"Cari sesuatu yang bisa menjadi jawaban," saran Wak Sidol. "Selama kau tidur, tak ada satu pun dari kami yang berani menyentuh isinya. Itu privasimu."
Sasha mengeluarkan sebuah buku catatan yang sampulnya mulai lapuk dimakan air. Lalu tiga botol minum kosong—dua di antaranya botol plastik tipis yang remuk. Ia juga menemukan pena, penggaris, penghapus, tisu, dan beberapa lembar uang.
"Tidak ada, Wak. Semuanya barang biasa," keluh Sasha, nyaris putus asa.
Pandangannya tertuju pada buku catatan itu. Satu-satunya harapan. Namun saat ia mencoba membukanya, kertasnya yang basah terasa sangat rapuh.
"Jangan dipaksa," Wak Sidol menahan tangan Sasha. "Besok, jika matahari muncul, kita jemur bukunya di teras. Menunggu adalah bagian dari penyembuhan."
Meja Makan dan Kehangatan Sederhana
Malam turun dengan suhu yang menusuk tulang. Sasha meringkuk di atas kasur, menatap jendela yang berembun, merasa seperti orang asing di dalam tubuhnya sendiri.
Tok, tok, tok.
"Makanan sudah siap. Kau lapar?" Wak Sidol muncul dengan senyum tulus.
Sasha bangkit dan mengikuti Wak Sidol menyusuri lorong rumah yang sederhana namun resik. Mereka masuk ke ruang makan yang didominasi meja kayu dengan empat kursi jati gelap yang tampak kokoh. Sebuah tudung saji berwarna ungu menutupi hidangan di tengah meja.
Di sudut ruangan, Sasha melihat dapur kecil dengan kulkas tua dan pintu kamar mandi yang tertutup dinding. Wak Sidol membuka tudung saji, mengeluarkan aroma yang menggugah selera.
"Ini bukan masakanku, aku membelinya di warung tadi. Ayo, temani orang tua ini makan," ajak Wak Sidol.
Sasha ragu sejenak, lalu duduk. Suapan pertama terasa asing, namun perlahan, rasa lapar yang nyata mengalahkan kecemasannya. Ia makan dengan lahap, merasakan setiap bumbu yang masuk ke mulutnya seolah itu adalah petunjuk pertama bahwa ia masih hidup.
Di bawah lampu kuning yang temaram, di tengah suara hujan yang belum juga reda, Sasha menyadari satu hal: ia mungkin kehilangan masa lalunya, tapi di meja makan ini, ia baru saja menemukan masa depan kecil untuk diperjuangkan.
____________________________________
Chapter 3 tamat
Terimakasih
💵 Dukungan Finansial 💵
https://saweria.co/GARTAWARA
🔍 Link tree 🔎
https://linktr.ee/gvochanel
Komentar
Posting Komentar