S1/E3 : Kelaparan dalam Ancaman


S1/E3: Kelaparan dalam Ancaman
gartawara entertainment


Posd kembali membuka pintu, namun ia mendapati kenyataan pahit: kamarnya tak lagi sama. Ia mencoba mengulang tindakan tersebut—menutup dan membuka pintu berulang kali—berharap ruang pribadinya kembali. Namun hasilnya nihil. 

Seolah-olah ada kekuatan dari luar yang sengaja mempermainkan realitas dan menjebaknya dalam anomali ini.

Di hadapannya kini terbentang lorong panjang yang monoton. Setiap sisinya hanya berisi barisan pintu yang identik. Posd mencoba membukanya satu per satu hingga napasnya tersengal karena kelelahan.

Di balik tiap pintu, ia hanya menemukan ruangan kosong tanpa furnitur, hanya dinding bata merah yang dingin. Lorong itu berujung pada sebuah persimpangan, namun konsepnya tetap sama: labirin tanpa akhir yang menyesatkan.


(lantai 5 : ilustrasi)

Posd terus berjalan hingga ia kehilangan arah sepenuhnya. Rasa lapar dan haus mulai menggerogoti pertahanannya. Ia berharap menemukan satu saja pintu yang berisi sesuatu untuk dikonsumsi, namun kenyataan tetap membisu.

Berjam-jam berlalu. Perut Posd terasa perih, melilit hebat. Di tengah keputusasaannya, ia menemukan sebuah kotak kayu yang tergeletak di depan salah satu pintu yang terbuka. Kotak itu tampak kokoh, terkunci oleh gembok aneh tanpa lubang kunci. Didorong rasa lapar yang memuncak, Posd kehilangan kesabaran. Ia menghantam kotak itu dengan tendangan sekuat tenaga hingga kayunya hancur berantakan.

Di dalam reruntuhan kotak, keberuntungan akhirnya berpihak padanya. Terdapat paket makanan siap saji yang sangat ia kenali: sebuah burger lengkap dengan daging, sayuran, dan saus, serta sebuah cup tertutup berisi cairan soda gelap.

Dengan tangan gemetar akibat kelaparan, Posd meraih makanan tersebut. Burger itu hampir saja jatuh dari genggamannya. Ia segera menyesap soda melalui lubang khusus pada tutup cup, lalu melahap burgernya dengan rakus hingga tak tersisa sedikit pun.

Setelah rasa lapar terobati, Posd menyadari bahwa pintu di belakangnya masih terbuka. Ia melangkah masuk untuk memeriksa ruangan tersebut. Berbeda dengan ruangan-ruangan sebelumnya, tempat ini berisi furnitur: sebuah tempat tidur hotel putih yang bersih, lampu tidur, tumpukan pakaian, meja, lemari kecil, dan sebuah pintu plastik yang menuju ke kamar mandi.

Saat terduduk di tepi kasur, sebuah fragmen ingatan melintas di benaknya, namun ia gagal menangkap kejadian pastinya. Rasa penasarannya kemudian beralih pada kamar mandi yang sempit, hanya seluas 1,5 meter persegi dengan dinding bata merah yang sama.

TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan mendadak terdengar dari balik pintu plastik itu. Posd tersentak, refleks menjauh dengan jantung berdegup kencang. Ketukan itu perlahan berubah menjadi gedoran yang brutal, seolah-olah sesuatu di balik sana sedang mencoba mendobrak keluar.

Posd mundur perlahan ke arah pintu keluar, matanya terpaku pada pintu kamar mandi yang mulai retak. Tiba-tiba, pintu plastik itu hancur berkeping-keping. Sebuah lengan dengan cakar panjang merobek udara. Sosok itu berbulu, menyerupai manusia namun dengan massa otot yang jauh lebih besar dan mengerikan.

Ketakutan menyergap. Posd berbalik dan berlari sekencang mungkin tanpa arah. Meski ia berusaha menghindar, ia merasa makhluk itu tetap mampu mengendus keberadaannya. Di ujung lorong, ia melihat sebuah ruangan tanpa pintu.

"Daripada mati konyol seperti di film-film karena berhenti lari, lebih baik aku masuk ke sana!" gumam Posd dengan napas yang mulai memburu.

Namun, rasa sakit mendadak menusuk perutnya saat berlari. Tak ada pilihan lain, ia segera menyelinap masuk ke ruangan tak berpintu itu dan bersembunyi di dalam sebuah lemari kayu tua. Ia berusaha mengatur napas dan menahan suara agar tidak terdeteksi.

 Melalui celah lemari, ia melihat sosok itu: seekor Werewolf dengan ukuran dua kali lipat lebih besar dari ukuran normal.

Dalam persembunyiannya, Posd mengeluarkan ponselnya. Anehnya, ada sinyal internet di tempat yang tidak masuk akal ini. Tanpa membuang waktu, ia mencari cara untuk menghadapi Werewolf.

 * Opsi Pertama: Menggunakan perak. Posd menggeledah sekitar, namun hanya menemukan tutup panci berbahan aluminium. Gagal.
 * Opsi Kedua: Air panas atau cahaya terang. Tidak ada kompor ataupun sumber air, dan senter ponselnya terlalu redup untuk membutakan makhluk itu.
 * Opsi Ketiga: Pengalihan perhatian. Ini yang paling berisiko.

Posd keluar dari lemari dengan gerakan sepelan mungkin. Setelah merasa jaraknya cukup aman, ia melemparkan tutup panci ke arah berlawanan.

PRANK!
Suara logam beradu dengan lantai memancing perhatian sang Werewolf. Makhluk itu segera menerjang ke arah sumber suara. Memanfaatkan jeda beberapa detik tersebut, Posd lari sekuat tenaga. Beruntung, monster itu tidak menoleh.

Setelah merasa cukup jauh, Posd berhenti dan menoleh ke belakang. Benar dugaannya, Werewolf itu telah lenyap, digantikan oleh dinding bata yang solid.

Sebuah teori terbentuk di kepala Posd: Di realitas ini, entitas akan tetap berada di tempat yang sama selama terjadi interaksi visual. Namun, jika kontak mata terputus selama beberapa detik, subjek atau entitas tersebut akan otomatis terteleportasi ke lokasi acak.

Posd mencatat informasi penting ini dalam ingatannya. Sembari menenangkan diri dari sisa-sisa ketakutan, ia kembali melangkah. Setelah berbelok ke arah kanan, ia menemukan apa yang ia cari: elevator itu telah kembali.


____________________________________

Chapter 3 tamat

Terimakasih

💵 Dukungan Finansial 💵

https://saweria.co/GARTAWARA



🔍 Link tree 🔎

https://linktr.ee/gvochanel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S1/E4 : Bidang cahaya

ZBS 3 : Seven Scion

S1/E1 : Tempat tinggal baru