S1/E2 : Kebingungan Di Bawah Hujan


S1/E2 : Kebingungan Di Bawah Hujan
gartawara entertainment


Sasha tidak ingin merepotkan siapa pun. Setelah tertinggal dari bus yang harusnya membawanya pulang, ia memilih untuk berjalan menyusuri trotoar, berharap ada keajaiban kecil: mungkin bus itu kembali lewat dan ia bisa mengejarnya. Namun belasan menit berlalu, tak satu pun bus terlihat. Hanya motor—motor asing yang melintas terlalu dekat, menimbulkan rasa tidak nyaman yang perlahan berubah menjadi kecemasan.

K bagaimana kalau ada orang jahat lewat? Bagaimana kalau aku diculik?

Pikiran—pikiran itu mulai menyesakkan dadanya. Sasha meneguk air minum dari botolnya, habis dalam sekali tegukan. Kerongkongannya kering, tubuhnya sedikit gemetar karena kelelahan dan dehidrasi. Ia ingin minum lagi, tetapi menahan diri—persediaannya terbatas.

Di tengah langkahnya yang mulai gontai, Sasha melihat sebuah papan petunjuk:
Halte Bus ± 500 m → ke kiri

Dengan sisa semangat yang ada, ia menuruti arah papan itu. Namun setelah berbelok, yang ia temukan justru persimpangan lain—tidak sesuai dengan petunjuk. Dua jalan terbentang saling berlawanan, dan tak satu pun terlihat seperti jalur menuju halte.

Tetapi Sasha tetap yakin: salah satu jalan itu pasti benar.

Ia memilih melanjutkan pencarian, meninggalkan jalan raya utama dan masuk ke daerah yang semakin asing, terasa sepi, dan membuatnya ragu. Dan setiap kali ragu itu muncul—Sasha kembali berpegang pada satu hal: Ada halte di suatu tempat. Aku hanya belum menemukannya.

Namun keraguannya terjawab pahit. Bukan halte yang ia temukan, melainkan percabangan baru—lagi, dan lagi.

Sasha menatap jalur-jalur itu, terasa seperti jebakan yang menuntunnya makin jauh. Warga yang sesekali lewat meliriknya seakan ia orang asing yang tersesat, membuat debaran jantungnya semakin cepat.

Sudah jam dua belas siang. Sasha benar-benar tersesat. Bumi di bawah matahari tepat di puncaknya membuatnya kehilangan orientasi. Ia tak tahu arah mata angin, tak tahu harus kembali atau terus maju, dan tak tahu berapa jauh ia telah berjalan.

Di titik itu Sasha mulai gelisah hingga nyaris menangis.

Ia memperhatikan sekitar: jalanan sepi, rimbun, tetapi aspalnya mulus—seperti jalur yang dibangun, namun jarang digunakan. Tidak ada warung, tidak ada rumah, tidak ada kendaraan. Hanya hening dan angin yang membawa rasa panas.

Sasha tetap berjalan, meski tubuhnya terasa ringan karena lelah. Sisa airnya semakin menipis, dan beberapa menit kemudian habis seluruhnya.

Langit mulai mendung. Sasha buru-buru memasang pelindung hujan pada tasnya, memasukkan topi dan benda lain agar tidak basah. Ketika hujan pertama turun, ia sudah sampai di kawasan yang lebih terbuka—hamparan padang rumput luas.

Ia baru menyadari betapa jauhnya ia melangkah ketika aspal yang semula rapi berubah menjadi tanah. Napasnya berat, langkahnya gemetar. Di tengah kepanikan dan putus asa, ia menemukan sebuah bangunan kecil: mushola.

Seolah mendapat pertolongan, Sasha bergegas masuk dan mencari toilet kecil di belakang bangunan itu.

Ketika ia keluar, hujan turun deras. Tasnya berada tepat di bawah rintik hujan. Sasha segera memindahkannya, tetapi tubuhnya sendiri basah kuyup. Pakaian menempel pada kulitnya yang dingin dan menggigil. Kelelahan, basah, haus—semuanya menumpuk menjadi rasa lemas yang menghantam.

Tidak ada siapa pun di mushola itu. Tidak ada suara lain selain rintik hujan yang memukul atap seng.

Sasha bersandar pada dinding, tubuhnya terkulai. Matanya berat dan ia hampir tertidur ketika kilatan cahaya petir menerangi bangunan. Sasha terkejut, bangkit refleks dengan panik.

Ia takut akan sambaran petir berikutnya, sehingga ia melangkah cepat ke bagian belakang bangunan. Namun lantai di sudut belokan sudah sangat basah—licin.

BRAK!

Kakinya terpeleset. Tubuhnya terbanting. Kepalanya menghantam lantai keras. Sensasi nyeri tajam langsung menusuk tengkoraknya.

Dalam kondisi basah, lelah, haus, dan kini sakit… kesadarannya memudar dengan cepat.

Sasha pingsan.


---

Entah berapa lama ia terlelap. Ketika sadar, napasnya memburu.

Ia tidak berada di mushola. Ia berada di sebuah ruangan sederhana—rumah seseorang. Dahinya dikompres kain hangat, tubuhnya diselimuti. Di luar jendela masih terdengar hujan, meski lebih pelan.

Sasha mencoba bangun, tetapi rasa nyeri di kepalanya memaksa ia mengerang. Ketika meraba dahinya, ia merasakan benjolan besar akibat benturan. Tubuhnya letih, gerakan sekecil apa pun terasa berat.

Namun rasa penasaran membuatnya mendorong diri bangkit perlahan. Ia berjalan ke arah pintu, membuka dengan hati-hati. Ruangan di baliknya gelap, hanya diterangi cahaya samar dari luar.

Ruangan itu lebih luas, dengan dua arah: ke depan menuju teras, dan ke belakang menuju lorong.

Sasha melangkah pelan menuju teras, berharap melihat siapa yang menolongnya.

Namun sebelum sempat sampai—

Sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang.

____________________________________

Chapter 2 tamat

Terimakasih

💵 Dukungan Finansial 💵

https://saweria.co/GARTAWARA



🔍 Link tree 🔎

https://linktr.ee/gvochanel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S1/E4 : Bidang cahaya

ZBS 3 : Seven Scion

S1/E1 : Tempat tinggal baru