S1/E1 : Kecerobohan di perjalanan


S1/E1 : Kecerobohan di perjalanan
gartawara entertainment
FONT : Montserrat Subrayada Bold

Siang itu, jalan raya dipenuhi arus kendaraan yang melintas tanpa henti. Udara terasa panas dan kering, seolah matahari sengaja mendekat lebih rendah dari hari-hari biasanya. Di tengah hiruk pikuk itu, sebuah bus antarkota tampak berhenti mendadak di depan sebuah bengkel kecil. Asap tipis keluar dari kap mesin, menandakan ada masalah yang cukup serius.

Suara keluhan penumpang terdengar memenuhi kabin bus. Beberapa orang memilih turun, sementara sebagian lainnya tetap duduk meski wajah mereka memerah karena teriknya udara. Di antara mereka, ada keluarga kecil yang menempati deretan kursi bagian tengah: keluarga Sasha.

Akram, sang kepala keluarga, menyeka keningnya dan memandang ketiga anaknya dengan cemas. “Panas sekali. Kalian turun saja,” katanya sambil berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.

Zeta, anak sulung berusia lima belas tahun, mengangguk patuh. Ia mengenakan kemeja hitam putih bergaris yang membuatnya tampak lebih dewasa dari usianya. Sosoknya tenang, santai, dan cenderung berpikir sebelum bertindak. Bima, adiknya yang berusia tiga belas tahun dengan kemeja oranye cerah, tampak gelisah namun tetap mencoba tersenyum agar suasana tidak menegangkan. Sedangkan si bungsu, Sasha, berusia sebelas tahun, duduk sambil memegangi kedua lututnya—wajah kecilnya mulai memerah karena kepanasan.

Sasha mengenakan kemeja violet bertepi abu-abu keputih dipadukan dengan gaun abu-abu gelap. Rambut bob pendeknya yang rapi melengkung ke samping, menyisakan kesan manis yang membuatnya mudah dikenali. Ia paling mirip dengan mendiang ibunya, yang telah lama berpulang karena sakit.

“Yah, panas...” keluh Sasha pelan.

“Makanya turun. Ayo.” Akram meraih tas selempangnya dan berdiri.


---

Begitu keluar dari bus, teriknya udara seakan langsung menyengat kulit mereka. Tidak ada pepohonan besar yang bisa memberikan keteduhan. Mereka pun memutuskan mencari tempat untuk duduk. Tidak jauh dari bengkel, mereka menemukan sebuah bangku kayu kecil di sisi jalan. Sayangnya, bangku itu hanya mampu menampung tiga orang.

“Bagian aku berdiri saja, nggak apa-apa,” ujar Akram.

“Tidak usah, Yah. Aku bisa pangku Sasha,” sahut Bima cepat.

“Aku? Dipangku?” Sasha memandang bingung.

“Kenapa? Kan adik kecil,” Bima terkekeh.

“Bukan kecil juga…” Sasha cemberut pelan.

Akhirnya mereka sepakat: Zeta dan Bima duduk di bangku, sementara Sasha duduk di pangkuan Bima. Akram berdiri di samping mereka, sesekali melirik ke arah bengkel untuk memastikan perkembangan perbaikan bus.

Waktu berlalu perlahan. Udara panas membuat hari terasa lebih panjang. Namun kemudian awan perlahan menutup langit, memberikan sedikit kesejukan. Zeta menghela napas lega.

“Untung mendung,” katanya.

Sasha mengangguk. “Tapi haus...”

“Ini ada air mineral.” Zeta merogoh tasnya dan mengangsurkan sebotol kecil.

Namun Sasha menggeleng cepat. “Bukan itu. Mau yang dingin. Yang ada rasanya.”

“Dari tadi kita nggak beli minuman dingin, Sha. Dari mana coba?”

Sasha menatap seberang jalan. “Di sana ada minimarket. Aku beli sendiri, ya?”

Akram spontan menggeleng. “Jangan. Ramai begitu. Takut kamu keliru.”

“Yah…” Sasha menatapnya dengan wajah memelas. “Cuma sebentar. Aku kan sudah besar.”

Zeta menambahkan, “Letaknya juga dekat kok, Yah. Ada zebra cross.”

Bima mengangguk setuju. “Kalau nunggu di sini malah makin panas.”

Akram terdiam sejenak, lalu menghela napas. Kekhawatirannya besar, namun ia juga tahu Sasha jarang meminta sesuatu dengan sekuat ini. “Baiklah. Tapi cepat. Dan habis beli, kamu langsung naik ke bus—langsung masuk. Jangan menunggu di luar.”

“Iya!” Sasha menjawab cepat. Akram menyerahkan beberapa lembar uang.


---

Sasha berjalan menuju zebra cross. Setiap langkahnya penuh semangat. Ia membayangkan betapa segarnya minuman dingin di tenggorokan nanti. Lampu lalu lintas belum menunjukkan tanda aman untuk menyeberang, sehingga ia menunggu beberapa saat. Mobil dan motor terus melaju dengan kecepatan yang membuatnya enggan mengambil risiko.

Ia menatap bus di kejauhan. Para mekanik tampak masih bekerja, dan ban bagian kiri memang terlihat sedang diperiksa.

“Masih lama,” gumamnya lega.

Akhirnya lampu merah menyala. Pejalan kaki diizinkan menyeberang. Sasha segera melintas, lalu berbelok masuk ke minimarket. Begitu pintu otomatis terbuka, udara dingin AC langsung menyambutnya, membuatnya menghela napas lega.

Ia berjalan ke rak minuman dan memilih beberapa botol yang terlihat paling dingin. Rasanya sudah terbayang. Setelah merasa cukup, ia menuju kasir. Namun di sana, antrean cukup panjang. Sasha menelan ludah.

“Yah… lama banget…” batinnya.

Ia menunggu sambil menggoyang-goyangkan kakinya, mencoba mengalihkan rasa cemas. Saat gilirannya tiba, kasir men-scan barang-barang miliknya.

“Ada promo beli dua gratis satu, mau sekalian?” tanya kasir ramah.

Sasha terdiam cukup lama, bimbang. Lalu menggeleng. “Tidak, Kak.”

Setelah membayar, Sasha memasukkan minuman ke dalam tas pundaknya. Ia memasang senyum kecil—setidaknya ia mendapatkan apa yang diinginkannya.

Namun begitu melangkah keluar...

Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Bus itu… tidak ada.

Bangku tempat mereka menunggu… kosong.

Bengkel… sepi dari penumpang.

Sasha memalingkan kepalanya ke kiri dan kanan, memastikan ia tidak salah lihat. Tapi tidak ada tanda-tanda keluarganya. Tidak ada Zeta, tidak ada Bima, tidak ada ayahnya.

Hanya jalan raya yang bising dan panas dari aspal yang memantul.

“Tidak mungkin…” bisiknya. “Tidak mungkin mereka pergi…”

Tenggorokannya tercekat. Kering. Tangannya mulai gemetar.

Ia tertinggal.

Ayahnya mungkin mengira ia kembali ke bus seperti janji. Dan kini bus itu telah pergi membawanya—membawa keluarganya—meninggalkan dirinya seorang diri di kota yang tidak ia kenal.

Sasha berdiri terpaku, memeluk tas kecilnya erat-erat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana.

____________________________________

Chapter 1 tamat

Terimakasih

💵 Dukungan Finansial 💵

https://saweria.co/GARTAWARA



🔍 Link tree 🔎

https://linktr.ee/gvochanel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S1/E4 : Bidang cahaya

ZBS 3 : Seven Scion

S1/E1 : Tempat tinggal baru