S1/E1 : Apartemen Pasar Terbengkalai


S1/E1 : Apartemen Pasar Terbengkalai
gartawara entertainment
FONT : Geo Regular

Di lembah terdalam dari rangkaian gunung utara, berdirilah HEMSTEM—sebuah metropolitan kelas bawah yang selalu tampak lebih besar daripada denyut hidup di dalamnya. Gedung-gedungnya tinggi, namun jendelanya jarang menyala. Jalan-jalannya lebar, tetapi langkah manusia selalu terdengar terlalu sunyi. Kota itu tampak megah… tapi jarang benar-benar hidup.

Kabut lembah turun hampir setiap malam, merayap di antara menara kusam dan lorong-lorong sempit tempat komunitas bawah tanah beroperasi dengan benderanya masing-masing. Konsep, ideologi, dan ambisi saling berbenturan, namun kota tetap bergerak seolah semuanya telah disetujui sejak lama. Di sini, kekuasaan tidak pernah diteriakkan—melainkan dibisikkan dari balik pintu logam dan jendela buram.

HEMSTEM bukan kota gemerlap. Cahaya di sini redup, hemat, seakan takut mengusik sesuatu yang mengawasi dari balik bayangan. Konon, lembah ini punya caranya sendiri untuk menelan suara, menahan cahaya, dan menyimpan rahasia lebih kuat daripada manusia mana pun.

Selama bertahun-tahun, satu hal tak pernah berubah: setiap minggu—tanpa meleset—selalu terjadi satu kasus misterius yang tak pernah terungkap.
Tidak ada pola. Tidak ada saksi. Tidak ada jejak yang bertahan hingga pagi.
Hanya kabut yang lebih tebal dari biasanya dan ketakutan yang kembali membungkus kota.

Di HEMSTEM, setiap orang akhirnya mempelajari satu hal: bahwa ada sesuatu di lembah ini yang bekerja lebih halus daripada hukum, lebih cepat daripada rumor, dan lebih sabar daripada waktu.

Dan kota itu…
tetap menatap, tetap menunggu, tetap menyembunyikan rahasianya.


---

Pasar Terbengkalai

Sampai akhirnya, cerita membawa kita ke sebuah bangunan pasar yang kini tak lebih dari apartemen sekarat. Seminggu lalu tempat ini masih dipenuhi pedagang, namun setelah insiden kebakaran, hanya segelintir orang yang tetap bertahan karena yakin lokasi ini masih strategis.

Sekitar 91% ruangan di bangunan besar tersebut kini kosong total. Pemilik gedung bahkan sudah menyatakan bahwa beberapa tahun lagi pasar ini akan dihancurkan dan diganti dengan infrastruktur baru.

Di salah satu lorong gelap, ada satu ruangan yang pintunya terbuka setengah, menumpahkan sedikit cahaya ke koridor. Sebuah bayangan muncul, kemudian kaki melangkah…
Namun bukan untuk keluar.
Justru menutup kembali pintu rolling besi itu dari dalam.

Orang itu memiliki ciri albino—rambut putih, kulit pucat—meski mata dan wajahnya tampak normal.

Ia berdiri di depan cermin, berkhayal seolah sedang memperkenalkan dirinya dalam sebuah presentasi kecil.

“Dan dia adalah Ovanavis Esan,” ucapnya lirih, “tapi lebih suka dipanggil One.”
Lalu berbisik, “Dibaca ‘one’, bukan aksen Inggris ya.”

“One tinggal di sini sejak sebulan lalu. Mungkin… One tidak begitu ingat apa pun sebelum itu,” gumamnya sambil memandangi refleksinya. “Setelah kebakaran itu, One panik… lalu diselamatkan oleh pemadam kebakaran.”

Entah karena beruntung atau justru terjebak, ia kembali ke tempat ini dan memilih berdiam diri, tanpa berhubungan dengan siapa pun. Selain itu, kulitnya yang sensitif terhadap matahari membuatnya hanya bisa keluar pada jam-jam tertentu.
“Matahari itu… rasanya seperti korek api,” ucapnya pelan.

One akhirnya rebah di kasur tipisnya. Rasa kantuk menuntunnya terpejam.
Namun baru beberapa detik terlelap, ia terbangun kembali—dengan sikap yang berbeda. Nafasnya lebih surut, matanya penuh kebingungan.

Ia menatap sekeliling dengan gelisah.
Pintu rolling besi itu…

Tertutup rapat.

Padahal One yakin—sangat yakin—bahwa ia tadi membukanya.

Kemudian One kembali berbaring di atas sofa, terasa kulit sofa tersebut sudah lapuk dan kusam.

Dalam benaknya, One mulai merasakan kesepian dan kebosanan yang selama ini baginya selalu dianggap sebagai hal kecil.

Tetapi setelah itu One mulai perlahan-lahan sadar akan masalah serius tersebut.

Melepas semua kegelisahan, One menenangkan dirinya dengan kembali mengingat kehidupannya di masa lalu, dimana dirinya belum seperti sekarang.
____________________________________

Chapter 1 tamat

Terimakasih

💵 Dukungan Finansial 💵

https://saweria.co/GARTAWARA



🔍 Link tree 🔎

https://linktr.ee/gvochanel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S1/E4 : Bidang cahaya

ZBS 3 : Seven Scion

S1/E1 : Tempat tinggal baru