S1/E8 : Nasi Uduk
S1/E8 : Nasi Uduk
gartawara entertainment
Dihari cerah seperti biasanya, Paman Evelyn tergesa-gesa mengenakan jaketnya.
“Zect,” panggilnya sambil mengulurkan uang kertas berwarna ungu. “Ini uang makan. Paman mau tanya, apakah bahan-bahan di dapur berkurang?”
“Ya, Paman. Memang sudah sedikit sejak minggu kemarin,” jawab Zect.
“Bagus kalau begitu.” Paman Evelyn menyodorkan uang senilai **Rp 500.000**. “Paman percayakan ini padamu. Belanja dengan bijak, ya.” Paman buru-buru pamit pergi bekerja.
Zect senang melihat angka besar itu. Namun, kegembiraannya pudar saat ia menyadari selembar uang itu hanya ditemani oleh kekosongan. Zect berlari ke depan rumah, tapi Paman Evelyn sudah terlalu cepat. “Paman lupa catatannya!” gumam Zect frustrasi.
**Aloca** dan **Puppet**, yang sedang membersihkan halaman, melayang mendekat. “Paman Evelyn terlihat terburu-buru sekali,” kata Aloca. Hal itu membuat Zect sedikit bingung.
Puppet, yang selalu fokus pada solusi, bertanya, “Apakah ada hal yang bisa aku bantu, Zect?”
“Aku tidak bisa berbelanja jika tidak ada daftar belanja dari Paman,” keluh Zect.
Puppet terkejut. “Tunggu sebentar. Bagaimana caramu membaca daftar belanja? Bukannya kau tidak bisa membaca huruf?”
Zect menjelaskan. “Aku memang tidak bisa membaca huruf, tapi aku bisa membaca daftar belanja Paman karena di sana hanya ada **angka** yang mengisyaratkan jumlah. Aku juga ingat nama-nama bahan yang Paman perintahkan. Itu semua tentang **simbol** dan **ingatan**.”
Puppet tersenyum. “Bagus! Kalau begitu, kita buat saja daftar yang diperlukan.”
Zect segera memberikan selembar kertas dan pulpen. Puppet mulai mencatat detail bahan-bahan dan harganya: Bawang Merah (Rp 15.000/kg), Bawang Putih (Rp 16.000/kg), Cabai (Rp 62.000/kg), Telur (Rp 30.000/kg), Garam Dapur (Rp 10.000/200g), Kaldu Ayam (Rp 1.000/pcs), Minyak Goreng (Rp 26.000/L), dan Kecap Manis (Rp 7.000/botol). Puppet menambahkan simbol-simbol visual agar Zect mudah mengidentifikasi barang di pasar.
Tiba-tiba, Aloca menyela. “Zect, bagaimana kalau siang ini kita masak **Nasi Uduk** saja? Aku bosan dengan nasi goreng atau bahkan ikan.”
Zect setuju. “Ide bagus. Tapi… aku belum pernah memasak Nasi Uduk.” Aloca menyarankan meminta resep dari warung Nasi Uduk di pinggiran kota yang pernah mereka kunjungi. Mereka pun berdiskusi tentang pembagian tugas. Aloca pergi mencari resep, sementara Puppet menyiapkan bahan yang ada di rumah, termasuk menyuci beras—sebuah proses yang ia kerjakan dengan presisi logis khasnya—sambil sesekali melanjutkan bersih-bersih halaman.
Sementara itu, Zect tiba di pasar swalayan yang modern dan ramai. Ia mengunjungi toko bumbu yang dijaga oleh lelaki seusia Paman Evelyn bernama **Afta**.
“Zect! Mau membeli bahan-bahan di sini?” sapa Afta ramah.
Zect menyerahkan daftarnya. Sembari Afta menimbang, ia bertanya mengapa Zect hanya berbelanja dua minggu sekali dan menanyakan Aloca yang tak ikut serta. Zect menjelaskan bahwa mereka jarang makan makanan "bagus" dan Aloca sedang di rumah. Afta mengangguk, lalu menimbang dan menghitung biaya belanja Zect.
Setelah membayar, Zect membeli bahan lain: Minyak Goreng, Telur, Kecap Manis, Garam, Micin/Penyedap, dan Cabai Merah. Dalam perjalanan pulang, ingatan Zect kembali pada perbincangan bumbu rahasia dengan pemilik warung Nasi Uduk di masa lalu.
Di sisi lain, Aloca kembali ke rumah membawa catatan resep dan cara memasak Nasi Uduk yang benar. Mendapati Zect belum pulang, Aloca bergegas menuju pasar untuk memberitahu Zect bahan tambahan. Tak jauh dari rumah, Aloca berjumpa dengan Zect yang membawa kantung belanjaan berat.
Aloca memberitahu pesannya, tetapi Zect mengatakan semua sudah dibeli. Aloca mengoreksi: semua barang di daftar awal ($1,5$ kg Bawang Merah dan Putih, $1,8$ kg Cabai, $2$ kg Telur, dsb.) memang telah dibelanjakan. Namun, resep Nasi Uduk mengungkapkan satu bahan krusial yang belum ada.
Zect menepuk keningnya. “Lupa!” Ia menyerahkan uang kembalian pada Aloca. “Aloca, kau saja yang pergi ke pasar. Beli **Gula Merah (5 pcs)**, **Tomat** ($0,5$ kg), **Timun** ($0,5$ kg), **Santan Instan** (4 pcs), dan **Gula Pasir** (2 pcs/1kg) untuk persediaan.” Aloca, tergiur porsi besar Nasi Uduk rumahan, setuju dan bergegas kembali ke pasar.
Zect sampai di rumah dan langsung menuju dapur. Puppet telah menyediakan alat-alat. Untuk menghemat gas, Puppet diperintahkan menyalakan tungku kecil dengan ranting dan arang.
Setelah api tungku menyala stabil, Zect menaruh wajan berisi $200$ ml air, $2$ lembar daun salam, $2$ batang serai, dan $5$ cm lengkuas. Zect tiba-tiba berhenti. “Kita perlu santan,” gumamnya.
Tepat saat itu, Aloca tiba. “Aku datang! Aku tidak akan membiarkanmu gagal hanya karena kekurangan satu **variabel**!” Aloca segera menuangkan empat bungkus Santan Instan.
Isi wajan direbus, diaduk hingga harum, kemudian Zect memasukkan $300$ gram beras dan mengaronnya. Setelah beras setengah matang, Puppet menaruh panci kukus di atas tungku. Beras aronan santan dimasukkan, ditambah Serai, Daun Salam, dan Bawang Goreng untuk menguatkan aroma. Catatan resep menunjukkan waktu kukus: **$25$ menit**.
Sembari menunggu, Zect menyandarkan punggung ke dinding dapur. “Sambil menunggu, Puppet, hitunglah. Berapa banyak uang yang kita gunakan dari Rp 500.000 itu?”
**Puppet** mengeluarkan kertas hitungan. “Mari kita terapkan prinsip **Aritmetika Pengeluaran**!”
Ia menjabarkan perhitungan:
1. **Belanja Zect (Bawang, Telur, Minyak, Kecap, Cabai):** Rp $323.100$.
2. **Belanja Aloca (Gula Merah, Santan, Gula Pasir, Tomat, Timun):** Rp $72.000$.
3. **Total Pengeluaran (Rp $323.100 + Rp 72.000$):** **Rp 395.100**.
Aloca bersiul. “Wow, Cabai benar-benar menguji **stabilitas keuangan** kita!”
Puppet mengangguk. “Tepat. Tapi kita berhasil menghemat! Uang awal Rp 500.000, dikurangi total pengeluaran, menyisakan **Rp 104.900**.”
Puppet lalu bertanya, “Apakah sisa nominal Rp $100.000$ ini cukup untuk kembali membelanjakan stok makanan di lain hari?”
Zect secara jujur mengungkap, “Uang yang diberikan Paman Evelyn kepadaku selalu dengan tujuan untuk berbelanja kebutuhan dasar. Jikalau sisa, itu adalah **keberuntungan** bagiku untuk dapat menabung. Uang belanja sepatutnya hanya diberikan kepadaku jika Stok di dapur telah menipis. Jika tidak, aku tidak akan mendapatkan uang belanja.”
“Ah,” Puppet menyimpulkan, “Ini adalah dana *ekstra* dari **Efisiensi Pembelian** kita hari ini!”
***
Akhirnya, $25$ menit yang ditunggu tiba. Zect kembali ke dapur, membuka penutup kukusan, dan mengaduk nasi agar tidak lembek. Ia memanfaatkan sisa pembakaran tungku untuk memanaskan air.
Setumpuk Nasi Uduk yang mengepul ditaruh ke dalam wadah baskom plastik yang cukup besar sesuai takaran. Kemudian Zect menyiapkan tiga piring. Ia memasak Telur Dadar, menambahkan Bawang Goreng renyah, dan irisan Timun.
Pada tahap akhir, ia menumbuk Cabai dan Tomat, yang kemudian ditambah Gula Merah—sesuai ingatan bumbu rahasia dari Bibi warung—untuk menampilkan cita rasa gurih manis khas Nasi Uduk. Sambal pedas manis itu disajikan pada wadah terpisah.
Zect lalu memanggil orang-orang rumah, menandakan hidangan yang dijanjikan telah ada.
Puppet terpukau dengan hasil masakan tersebut. Rasa gurih dan harum yang nikmat menghilangkan rasa bosannya. Aloca juga sama; ia mengambil nasi hampir dua kali lipat dan makan dengan lahap, tak lupa dengan beberapa bawang goreng.
Setelah itu Zect menyeduh teh yang telah dipanaskan dari sisa tungku, dan menambahkan Es Batu. Minuman Es Teh yang dingin menghilangkan dahaga setelah menyantap Nasi Uduk yang gurih.
Siang itu ditutup dengan rasa kenyang dan puas akan rasa penasaran.
Chapter 8 tamat
Terimakasih
💵 Dukungan Finansial 💵
https://saweria.co/GARTAWARA
🔍 Link tree 🔎
https://linktr.ee/gvochanel
Komentar
Posting Komentar