S1/E7 : Aloca dan Puppet

S1/E7 : Aloca dan Puppet
gartawara entertainment

Siang hari telah tiba. Aloca pulang ke rumah dengan langkah gontai. Ekspresi wajahnya murung, matanya kosong. Ia duduk di teras, memandang kosong ke depan, meratapi hasil pencariannya yang nihil.

Puppet, yang kebetulan sedang berada di dekat pintu, melihatnya. Tanpa berpikir panjang, ia mendekati Aloca. "Aloca," panggilnya lembut. "Mau es teh?" Ia menunggu jawaban. "Atau mau kubawakan ke sini?"

Aloca mendongak. "Ya, terima kasih," jawabnya, suaranya pelan. Puppet menyadari ada yang tidak beres. Ia duduk di samping Aloca, mengabaikan es teh untuk sementara.

"Apa yang terjadi?" tanya Puppet, suaranya dipenuhi rasa ingin tahu.

Aloca menghela napas. "Aku tidak menemukan barang-barang lagi hari ini. Tempat pembuangan barang bekas sudah mulai dipindahkan." Suaranya terdengar penuh kekecewaan.

Mendengar itu, Puppet menjadi penasaran dengan kegiatan Aloca sehari-hari. Ia mengamati mata Aloca yang biasanya penuh dengan keceriaan kini terlihat kosong. "Apa yang kamu cari setiap hari, Aloca?" tanya Puppet. "Kenapa kamu selalu pergi bermain sendirian?"

Aloca menjawab bahwa setiap hari ia pergi adalah untuk mengisi rasa bosannya. "Tidak ada lagi hal yang lebih menarik di lingkungan ini." Sejak saat itulah berbagai macam hal membentuk Aloca untuk berkeliaran di lingkungan. Ia merasa bosan di rumah, dan kebosanan itu mendorongnya untuk pergi. "Yang kuinginkan hanya mencari hal-hal baru. Mungkin... sesuatu yang bisa membuatku tidak merasa bosan."

Puppet mengangguk mengerti. "Kenapa kamu tidak mengajak temanmu?" tanya Puppet.

Mendengar itu, mata Aloca berkaca-kaca. "Aku pernah," bisiknya. "Aku pernah berteman dengan sekelompok anak-anak di taman. Tapi, terkadang... aku tidak mengerti. Lama-kelamaan, mereka seolah tidak percaya lagi denganku."

Aloca bergumam, "Sejak saat itulah aku merasa sendiri. Aku hanya punya Zect dan Paman, tidak ada orang lain yang setulus itu." Suaranya bergetar, mengungkapkan rasa sakit yang terpendam.

Puppet, yang kini mengerti, tahu bahwa Aloca belum bisa sepenuhnya mengungkapkan perasaannya. Ia tidak mengatakan apa-apa, ia hanya membiarkan Aloca berbicara. Setelah Aloca selesai berbicara, Puppet menawarkan, "Bagaimana kalau hari ini, aku bersamamu?"

Mata Aloca berbinar, penuh harapan. "Bagaimana dengan Zect? Bukankah dia membutuhkan bantuanmu?"

Puppet tersenyum. "Zect tidak keberatan," jawabnya. "Dia juga tahu jika aku bersamamu." Puppet meyakinkan Aloca. "Zect juga ingin kamu senang." Puppet mengangguk meyakinkan. "Maka, untuk saat ini, aku akan bersamamu dan melihat hal-hal yang tidak kuketahui." Puppet berdiri, lalu menarik tangan Aloca.

"Ayo, pakaikan aku jubah," pinta Puppet.

Mereka pun bergegas. Zect, yang melihat dari kejauhan, tersenyum kecil. Ia tahu, persahabatan antara Puppet dan Aloca akan membuat mereka berdua lebih kuat.

Mereka berjalan, Aloca menuntun Puppet. "Kau ingin lihat tempat rongsokan yang sering aku kunjungi?" bisik Aloca. "Banyak harta karun di sana!"

Puppet setuju. Setelah melewati sawah dan sungai, mereka tiba di sebuah tempat yang dipagari kawat. Tumpukan besi berkarat dan alat elektronik tua menjulang tinggi. Aloca menarik Puppet, bersembunyi di balik semak-semak lebat. Puppet bingung, lalu berbisik, "Kenapa kita sembunyi? Ini 'kan tempat sampah?"

Aloca mengisyaratkan Puppet untuk diam. "Ini bukan tempat sampah di bawah meja dapur, ini gudang barang bekas!" bisiknya. "Alasanku tertarik adalah untuk mencari barang-barang yang secara kebetulan akan berguna suatu hari nanti." Ia menunjuk ke arah tumpukan besi-besi dan mesin-mesin tua. "Lihat, itu semua adalah benda-benda yang pernah berguna, dan mungkin akan berguna lagi suatu saat."

Sembari menunjuk dan menjelaskan, Aloca melihat sebuah radio bekas di atas meja di pos penjaga, di mana seorang satpam duduk mengantuk dengan secangkir kopi di sampingnya. "Itu pasti bukan miliknya. Kemarin aku melihat radio yang sama di tumpukan ban bekas," bisik Aloca. "Kalau tidak akan dijual, lebih baik kita gunakan untuk hal lain. Mencuri adalah satu-satunya cara."

Puppet terkejut. "Mencuri?" Ia menggeleng. "Itu ilegal! Hukumannya berat!"

"Tapi ini kan dari tempat tak berarti," bantah Aloca. "Kalau tetap di tempat ini, dia tetap tak berarti. Kenapa tidak kita ambil untuk menjadikannya berarti?"

Puppet terdiam, bingung. Ia memikirkan kembali kata-kata Aloca. Setelah berpikir panjang, ia setuju. "Baiklah. Ayo kita lakukan."

Mereka mulai menjalankan aksi. Zect sering berkata, "Semua hal punya rumus." Puppet teringat hal itu, dan ia pun punya rencana. Ia membutuhkan penggaris yang ada di ranselnya untuk mengukur, tetapi ia tidak memilikinya. "Aku butuh sesuatu yang panjang dan lurus," bisik Puppet.

Aloca melihat ke sekeliling, dan menemukan sebuah ranting lurus yang patah. "Ini?"

"Bukan," jawab Puppet. "Kita butuh sesuatu yang lebih kokoh." Mereka mencari dan menemukan sebuah batang kayu lurus yang mereka gunakan sebagai penggaris. Puppet melihat dinding rantai yang mengelilingi tempat itu. Ia berbisik, "Kita hitung luasnya. Semakin besar luas, semakin aman kita bisa bergerak." Mereka membagi dinding itu menjadi beberapa kotak imajiner, **menghitung luasnya** dengan L = s × s, untuk melihat mana yang memiliki area paling aman.

Saat mereka mendekati radio, seorang satpam yang sedang mengantuk tiba-tiba terbangun. "Hati-hati, ada satpam yang lagi minum kopi!" bisik Aloca. "Minum kopi di siang bolong, aneh sekali!"

Mereka bersembunyi di balik tumpukan besi. Tiba-tiba, sebuah mobil sampah datang. Mereka harus bersembunyi lebih dalam di balik tumpukan besi. Hampir saja mereka ketahuan, tetapi satpam yang mengantuk itu malah tidak menyadarinya.

Setelah mobil sampah itu pergi, mereka berhasil mendapatkan radio jadul itu dan bergegas membawanya pulang.

---

Setelah mendapatkan radio, mereka berjalan pulang dengan bahagia. Sinar matahari senja menghangatkan punggung mereka. Puppet awalnya merasa tidak nyaman dengan tindakan mencuri itu, tetapi Aloca menenangkan. "Yang kita ambil tidak ada pemiliknya," bisik Aloca, "Jadi, tidak salah, kan?" Puppet tersenyum, tidak lagi merasa bersalah.

Mereka melewati pemukiman kecil yang terdiri dari beberapa rumah. Sebuah ide terlintas di kepala Puppet. "Aloca, aku punya tantangan!" serunya. "Ayo kita hitung jumlah rumah di jalan ini. Aku yakin aku lebih cepat!"

Aloca tertawa dan menerima tantangan itu dengan sigap. Mereka berlari kecil, jari-jari mereka menunjuk setiap rumah yang mereka lewati. "Satu... dua... tiga..."

Di ujung pemukiman, di mana perumahan mulai menipis, mereka berhenti untuk membandingkan jawaban.

"Aku dapat 14," kata Puppet, yakin.

"Aku dapat 13," jawab Aloca. Ia mengerutkan dahi. "Kenapa kau menghitung 14? Aku yakin sudah benar."

Puppet melihat keraguan di mata Aloca. Tepat di sampingnya, ada sebuah papan nama jalan yang bertuliskan "**Jalan Anggrek, 13 Rumah**." Puppet menyadari bahwa Aloca tidak hanya menghitung rumah, tapi juga mengandalkan tulisan itu. Aloca tidak terlalu mahir dengan angka, tetapi ia menghargai setiap informasi, termasuk yang ada di papan. Puppet tersenyum dan memilih untuk tidak mengoreksi.

"Kau benar," kata Puppet, mengangguk. "Aku keliru."

Aloca menghela napas lega dan tersenyum. "Kau curang, ya!" candanya.

Setelah melewati jalan itu, mereka menemukan sebuah taman bermain yang sepi. Ayunan, perosotan, dan jaring laba-laba terlihat usang, diselimuti kesunyian.

Aloca menarik Puppet. "Ayo, ke sana!" ajaknya.

Puppet bertanya, "Kenapa? Apa ada sesuatu di tempat ini?"

Aloca mengangguk. Wajahnya yang ceria tiba-tiba menjadi murung. "Dulu... ini tempat favoritku," bisiknya, suaranya kembali sedih seperti di awal cerita. "Aku sering bermain di sini dengan teman-temanku. Mereka dulu sangat baik, sering mengajakku. Sampai suatu hari, mereka mulai menghindar. Mereka tidak mau bermain denganku lagi. Aku tidak tahu kenapa."

Puppet menatap Aloca. Ia merasakan kesepiannya. "Aku mencoba bertanya, 'kenapa kalian menghindariku? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?'" Aloca melanjutkan, suaranya serak. "Seorang anak bilang, 'Teman-teman kami tidak mau lagi bermain denganmu. Mereka bilang kau adalah anak pembawa sial.' Aku tidak mengerti."

Aloca menunjuk ke arah ayunan. "Dulu aku bermain ayunan sendirian. Aku pikir mereka akan kembali, tapi tidak. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bermain di sini. Aku tidak pernah punya teman lagi setelah itu."

Puppet memeluk Aloca. Ia menyadari, di balik keceriaan Aloca, ada luka yang dalam. Puppet tidak tahu apa yang terjadi pada Aloca, tetapi ia tahu bahwa ia tidak akan membiarkannya sendirian lagi.

Mereka pun duduk di ayunan, dan Puppet mulai mengayunkan ayunan Aloca. Senyum perlahan kembali ke wajah Aloca, ia merasa tidak lagi sendirian. Ia menatap Puppet dengan mata berbinar.

"Aku... aku rasa aku tahu siapa teman sejatiku yang telah kembali," kata Aloca, suaranya dipenuhi rasa haru.

Puppet menatapnya dengan heran. "Siapa?" tanyanya.

Aloca tersenyum bangga. "Kau," bisiknya. "Kau adalah teman sejatiku." Ia mengambil tangan Puppet. "Kau tidak pernah menyalahkanku, bahkan saat aku mencuri radio itu. Kau tahu aku tidak nyaman, tapi kau memilih kedamaian. Kau tahu... selama ini, hanya kau yang tidak pernah menyalahkanku."

Puppet membalas senyuman itu. "Aku juga berterima kasih padamu, Aloca," ucapnya tulus. "Ini adalah balasan atas semua kebaikanmu. Atas semua penerimaan kalian kepadaku."

Mereka lalu mulai berjalan pulang ke rumah, menikmati sore yang mulai larut. Langit berubah menjadi oranye keemasan. Burung-burung beterbangan dalam formasi V, seolah-olah mereka adalah segitiga yang sempurna, dan angin berhembus. Aloca dan Puppet berjalan berdampingan, membawa pulang sebuah radio tua, beberapa memar, dan sebuah persahabatan yang baru.

____________________________________

Chapter 7 tamat

Terimakasih

💵 Dukungan Finansial 💵

https://saweria.co/GARTAWARA



🔍 Link tree 🔎

https://linktr.ee/gvochanel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S1/E4 : Bidang cahaya

ZBS 3 : Seven Scion

S1/E1 : Tempat tinggal baru