S1/E6 : Mengabadikan kenangan

S1/E6 : Mengabadikan Kenangan
gartawara entertainment

Pagi itu, Paman Evelyn berangkat kerja lebih siang. Ia bergegas keluar, terburu-buru seperti kebiasaannya. Di meja makan, sebuah benda hitam mengilap tergeletak—ponselnya. Puppet menatapnya dengan bingung, ingin mengantar, tetapi ia tidak tahu di mana Paman Evelyn bekerja. Aloca pun hanya bisa menggelengkan kepala, sama-sama tidak tahu.

Zect melihat kesempatan ini. Ia tahu di mana tempat kerja pamannya, tetapi sebuah ide usil melintas di benaknya. Ia mengambil ponsel itu, menyembunyikan senyumnya di balik punggung. "Paman bekerja di tempat lain hari ini," katanya, "tempat yang tidak aku tahu."

Aloca dan Puppet mengangguk percaya. Zect, dengan cekatan, memasukkan ponsel itu ke dalam saku. Ia berjanji akan menjaganya, dan semua orang setuju, mengabaikan kecurigaan apa pun. Zect merasa bersemangat. Ia telah menyelesaikan semua pekerjaan rumah sejak pagi, dan kini ia memiliki mainan baru yang menarik untuk dijelajahi.

Zect menghabiskan sisa hari untuk mengutak-atik ponsel. Ia mencoba setiap tombol, setiap ikon, dan setiap fitur dengan rasa ingin tahu yang besar. Yang paling menarik baginya adalah kamera. Ia memotret apa pun yang ia lihat—bunga-bunga di halaman, wajah terkejut Aloca, dan tentu saja, Puppet yang penuh rasa ingin tahu. Zect tidak menyadari, bahwa setiap potret yang ia ambil, memiliki **bobotnya sendiri** yang membebani ruang di dalam ponsel. Seolah-olah setiap gambar itu adalah sebuah batu kecil yang dimasukkan ke dalam keranjang.

Sore harinya, saat Zect mencoba memotret langit senja yang mulai berwarna jingga, ia melihat sebuah ikon peringatan. Ia mengklik ikon itu. Sebuah tulisan muncul di layar, namun Zect mengerutkan dahi. Ia tidak bisa membaca. Sejak kecil, karena hidup seadanya, ia hanya belajar nama-nama benda dan angka dari Paman Evelyn. Ia tidak pernah diajarkan membaca atau menulis huruf. Zect panik. Ia mencoba menekan tombol lain secara acak, berharap tulisan itu hilang, tetapi hanya membuat keadaan semakin buruk. Layar pun menjadi hitam.

Zect berusaha keras menghidupkan kembali kamera, tetapi tidak ada yang terjadi. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia segera menyembunyikan ponsel itu di balik punggungnya. "Tidak apa-apa," katanya, suaranya tercekat. "Mungkin hanya macet."

Puppet melihat keheranan Zect, tetapi Aloca, yang memperhatikan, justru mendekat. "Zect, kenapa kameranya tidak bisa dipakai?" tanyanya. Ia tahu cara membaca dari buku-buku lama yang ia temukan saat menjelajah di hutan. Zect segera mencegah Aloca mendekat. Ia khawatir adiknya akan membaca tulisan di layar dan mengetahui bahwa ia menyembunyikan ponsel itu. "Tidak, Aloca! Jangan dekat-dekat!"

Di tengah kekacauan itu, Zect tidak sengaja menekan tombol telepon. Tiba-tiba, suara panggilan aneh terdengar dari ponsel. Zect langsung panik. Ia tidak tahu bagaimana menghentikannya, merasa seperti berada di dalam labirin yang tidak ada jalan keluarnya.

Puppet, yang melihat Zect panik, teringat sesuatu. Setiap malam, Paman Evelyn sering menelpon seseorang, dan Puppet mengamati **urutan tindakan** yang ia lakukan. Dengan pengetahuan dasar itu, Puppet mendekat, tangannya gemetar, dan menekan tombol merah. Panggilan itu terputus, dan keheningan kembali.

Zect menghela napas lega, tetapi masalahnya masih ada. Notifikasi "memori penuh" itu masih muncul. Ia mengambil kembali ponsel dari Puppet, berusaha mencari cara sendiri. Setelah beberapa saat, ia menyerah. Ia tidak bisa melakukannya sendirian.

Aloca, yang melihat kakaknya menyerah, akhirnya angkat bicara. "Zect, kita bisa mencobanya bersama. Aku tahu beberapa simbol di sini, dan Puppet mengerti pola-pola aneh itu."

Zect ragu, tetapi melihat ekspresi tulus adiknya, ia menyerahkan ponsel itu. Mereka bekerja sama. Aloca menunjuk simbol-simbol, dan Puppet mencoba menghubungkannya dengan pola-pola yang ia kenali. Mereka menemukan deretan foto dengan angka dan huruf di sampingnya: 2 MB, 3 KB, 1 GB.

"Kita harus hapus yang paling kecil dulu," kata Aloca, teringat pelajaran alfabetnya. "Aku rasa huruf **G** lebih besar dari **M** atau **K**, jadi urutannya harus **M** > **K** > **G**. Kita hapus yang huruf K dan M dulu ya."

Mereka mulai menghapus foto-foto dengan ukuran 'KB' dan 'MB'. Ruang memori bertambah sedikit, tapi tidak signifikan. Mereka pun beralih ke foto-foto yang berukuran 'GB', yang Aloca kira adalah yang paling besar. Saat mereka menghapus satu foto saja, ruang kosong di memori langsung bertambah banyak, seperti sebuah waduk yang tiba-tiba mengering. Zect dan Puppet terkejut.

"Kenapa satu foto itu saja bisa membuat ruang sebanyak ini?" tanya Zect, matanya membesar.

"Sepertinya aku salah," kata Aloca, menyadari kesalahannya. Ia menunduk malu. "Aku kira huruf itu urutan dari yang paling besar."

Puppet tersenyum. "Ini bukan tentang huruf, Aloca," katanya. "Ini tentang **kuantitas**. 'G' adalah yang paling besar, 'M' adalah yang di tengah, dan 'K' adalah yang paling kecil. Seperti sebuah mangga, seribu mangga adalah satu ton. Dan seribu ton adalah satu gunung. Kurang lebih seperti itu."

Zect mengangguk mengerti. "Jadi, kalau mau cepat, kita hapus saja yang paling besar!"

Mereka berdiskusi. Zect ingin menghapus semua foto yang kabur. Tapi Puppet mengingatkan Zect, "Tadi kamu bilang, ada beberapa foto yang penting. Kita bisa memilih mana yang akan disimpan berdasarkan **urutan kepentingannya**, bukan hanya ukurannya."

Akhirnya, dengan pemahaman baru itu, Zect memilih foto-foto yang paling berharga untuk disimpan, sementara mereka menghapus foto-foto kabur dan yang tidak penting. Mereka berhasil membebaskan ruang memori dan kamera kembali berfungsi. Zect menatap ponsel itu, bukan hanya sebagai mainan, tetapi sebagai alat yang mengajarkan pelajaran berharga. Ia sadar, bahwa memendam masalah dan mencoba menyelesaikannya sendirian hanya akan membuatnya semakin kacau. Meminta bantuan, dan bekerja sama, adalah kunci untuk menyelesaikan masalah, sekecil apa pun itu.

---

Sore harinya, Paman Evelyn pulang ke rumah. Ia menghela napas, mencari-cari sesuatu di setiap sudut ruangan. "Ponselku... aku rasa aku menjatuhkannya di jalan," gumamnya.

Puppet, yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu, menjelaskan. "Ponsel Paman aman. Ponselnya jatuh di depan pintu saat Paman pergi bekerja, jadi kami ambil."

Zect yang mendengar itu, langsung menghampiri pamannya. Ia mengeluarkan ponsel itu dari sakunya dan menyerahkannya kembali. "Maaf, Paman," kata Zect, suaranya pelan. Ia lalu menceritakan semua yang terjadi, dari awal ia mengambil ponsel hingga ia dan Aloca membantu menyelesaikan masalah. Zect tahu, kejujuran adalah hal yang paling baik saat ini.

Paman Evelyn mendengarkan dengan saksama. Ia memeriksa ponselnya, melihat foto-foto yang diambil Zect dan ruang memori yang sekarang lebih lega. Senyum hangat merekah di wajahnya. "Tidak apa-apa, Nak," katanya. "Kamu sudah berbuat benar dengan mengembalikannya. Terima kasih sudah menjaganya, dan terima kasih sudah berani jujur."

Paman Evelyn menepuk bahu Zect. "Sebagai gantinya, di tempat kerja Paman ada pedagang bazar buku. Karena harganya murah dan Paman tahu kamu ingin belajar, besok Paman akan membelikanmu buku belajar murah."

Wajah Zect langsung berbinar. Ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Terima kasih, Paman!" ucapnya. Malam itu pun ditutup dengan Zect, Puppet, dan Aloca yang berkumpul bersama, menanti hari esok, hari di mana Zect akan memulai petualangan baru dalam dunia yang penuh dengan kata-kata.

____________________________________

Chapter 6 tamat

Terimakasih

💵 Dukungan Finansial 💵

https://saweria.co/GARTAWARA



🔍 Link tree 🔎

https://linktr.ee/gvochanel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S1/E4 : Bidang cahaya

ZBS 3 : Seven Scion

S1/E1 : Tempat tinggal baru