S1/E1 : Dinding pikiran
S1/E1 : Dinding pikiran
©gartawara2025
FONT : Poppins Extra Bold
Di sebuah apartemen yang dindingnya mengelupas, Posdaya, seorang remaja yang terbiasa tenggelam dalam dunianya sendiri, terkurung di kamar yang sempit. Setiap hari, dari balik pintu yang terukir bekas cakaran, ia mengabaikan dunia luar. Satu-satunya jendela menuju realitasnya adalah sebuah layar yang berkedip.
"Posdaya!" Sebuah suara yang familiar, serak karena lelah, memanggil dari balik pintu. Ayahnya. Posdaya tidak langsung merespon. Dia tahu suara itu, nada berat yang selalu membawa pesan yang sama. Posdaya menghela napas, lalu bangkit dari kursi, melangkah keluar. Di ruang tengah, Ayahnya berdiri, memegang piring kosong. "Makan," katanya, tanpa senyum. "Kamu lupa lagi, kan?"
Posdaya mengangguk. Komputer barunya telah menyita seluruh perhatiannya, mengabaikan perut yang kosong. Komputer itu memang jadul, dengan monitor yang tebal dan keyboard yang kotor. Tapi bagi Posdaya, benda itu adalah harta karun yang tak ternilai. Setelah mengambil semangkuk mi instan yang masih mengepul, ia kembali ke kamarnya, matanya tak lepas dari layar.
Penelitiannya adalah animasi. Sebuah program sederhana, yang menurut orang lain mungkin membosankan, tapi bagi Posdaya, itu adalah kanvas tak terbatas. Dengan **mouse** yang terasa canggung di tangannya, ia mulai menggambar. Garis-garis digital membentuk siluet. Sebuah **stickman** biru, kurus dan rapuh. Posdaya tersenyum. Karyanya masih berantakan, dan ia tak tahu banyak tentang perangkat lunak ini. Ia belajar dari kesalahan: **`Ctrl + Z`** untuk kembali, **`Esc`** untuk keluar dari jendela. Setiap tombol adalah pelajaran baru. Tak lama, *stickman* itu berubah. Posdaya memberinya tubuh berisi, mata besar, dan senyum lebar. Ia mewarnainya dengan kuas digital, lalu menemukan alat **ember** yang langsung membanjiri kanvas dengan warna solid, mengubah latar belakang dari putih menjadi biru langit.
"Apa-apaan ini?" Sebuah suara berat mengejutkannya. Ayahnya berdiri di sampingnya, wajahnya dipenuhi amarah.
"Ini... ini cuma gambar, Yah," kata Posdaya, suaranya bergetar.
Ayahnya tidak mempedulikannya. Matanya terpaku pada sebuah kotak di samping meja. "Mainan aneh apa ini?" Ayahnya mengangkat sebuah **VR** usang, yang dibalut plastik untuk membuatnya terlihat futuristik. Posdaya menggeleng. "Aku nggak pesan itu, Yah. Serius."
"Nggak pesan?" Ayahnya tertawa getir. "Lalu kenapa kurir itu minta bayaran tunai? Uang yang harusnya buat bayar sewa, Posdaya! Untuk mainan tidak berguna ini?" Mata Posdaya memanas. Ayahnya tidak pernah semarah ini. Ia ingin menjelaskan, ingin membantah, tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokannya. Ayahnya melemparkan VR itu ke atas kasur, lalu mencabut kabel komputer dari stop kontak dengan kasar. Layar langsung padam, seolah nyawa komputer itu direnggut paksa.
Ayahnya pergi, membanting pintu kamar dengan suara gemuruh. Listrik kamar padam, dan Posdaya tahu itu adalah Ayahnya. Ia terdiam dalam kegelapan, hanya ditemani napasnya sendiri. Dengan tangan gemetar, Posdaya meraba-raba tasnya, mencari senter. Senter itu menyala, cahayanya yang tipis menyorot ke kasur, tempat VR aneh itu tergeletak. Meski tampak rusak, Posdaya mengambilnya. Ia memegang benda itu, meraba tombol-tombol yang tidak dikenali, membayangkan dunia di mana ia bisa melarikan diri dari realitas ini. Di dunia yang ia impikan, ia tidak perlu takut, dan tidak ada lagi dinding yang memisahkan dirinya dari orang lain. Sambil memegang benda asing itu, ia perlahan merebahkan diri di kasur. Semangkuk mi yang sudah dingin di meja komputer kini terlupakan. Posdaya memejamkan mata, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kelelahan yang dalam. Ia tertidur, memeluk mimpi yang mungkin akan segera menjadi nyata.
---
Ketika Posdaya membuka matanya, ia tidak lagi berada di kamar yang familier. Langit-langit kamarnya yang retak digantikan oleh sebuah lorong panjang berwarna kuning kusam, yang disinari oleh lampu-lampu neon putih yang berkedip redup. Udara di sekitarnya terasa kosong dan hampa, seolah-olah semua suara di dunia nyata telah lenyap. Ruangan itu terasa seperti labirin, dengan dinding-dinding yang sama persis, tetapi di setiap sudutnya, berdiri mesin-mesin minuman otomatis yang mengkilap, kontras dengan kusamnya lorong.
Posdaya meraba sakunya. Sebuah koin. Ia berjalan mendekati salah satu mesin, berharap menemukan sebotol soda dingin untuk mengusir rasa bingungnya. Tangannya terangkat, siap memasukkan koin, tetapi tiba-tiba, sebuah insting aneh menyuruhnya untuk lari. Ia berbalik, dan tanpa berpikir, kakinya bergerak, berlari menelusuri lorong dengan cepat. Ia tidak tahu apa yang ia hindari, tetapi rasa takut itu nyata.
Ia berhenti, terengah-engah, di sebuah persimpangan. Suara gemuruh rendah, seperti mesin diesel yang tua, memecah kesunyian. Tiba-tiba, dari balik sudut, muncul sesosok monster. Bentuknya tak beraturan, seperti campuran dari mimpi buruk dan barang rongsokan. Kerangka hitamnya dipasangi kamera, sebuah senter tua menggantikan salah satu matanya, dan kakinya tampak seperti ban motor yang berputar perlahan. Monster itu bergerak lambat, tetapi dengan setiap langkahnya, raungannya menggetarkan udara. Senter di wajahnya menyala, dan sinar itu langsung jatuh ke arah Posdaya, seolah monster itu baru saja menemukannya.
Tanpa pikir panjang, Posdaya berbalik, dan di belakangnya, sebuah dinding biru yang tidak ada sebelumnya kini berdiri tegak. Di tengahnya, sebuah pintu lift berwarna perak yang mengkilap menunggunya. Ia melesat masuk, menekan tombol-tombol yang ada di dalamnya. Tidak ada tombol untuk lantai-lantai tertentu, hanya tombol **tutup pintu otomatis** dan tombol **naik-turun**.
Ia menekan tombol tutup pintu. Pintu lift perlahan menutup, dan yang mengejutkan, pintu itu transparan. Ia bisa melihat monster itu, kini berlari cepat, menghantam pintu dengan bahu besarnya. Hantaman itu membuat lift bergetar, tetapi pintu transparan itu tidak retak sedikit pun. Dalam kepanikan, Posdaya menekan tombol **turun**. Tidak ada yang terjadi. Ia beralih ke tombol **naik**, dan lift itu mulai bergerak. Namun, gerakannya aneh; seolah-olah dia harus terus menekan tombol agar lift itu terus terangkat, seperti sebuah katrol yang ditarik secara manual. Jika ia melepaskan tombolnya, lift itu akan jatuh bebas.
Dengan tangannya yang gemetar, Posdaya terus menekan tombol itu, memaksa lift naik. Semakin tinggi, suara raungan monster itu semakin meredup, hingga akhirnya tidak terdengar lagi. Ia menyadari, lift ini tidak memiliki katrol atau kabel di atasnya, dan atapnya pun transparan, sama seperti pintunya. Ia bisa melihat ke atas, ke lantai-lantai yang tak terhitung jumlahnya. Gedung ini sepertinya tidak memiliki batas. Lift terus naik, dan akhirnya berhenti di lantai dua. Sebuah pintu terbuka, menantinya di tempat yang tidak ia kenali, di dunia yang tidak ia pahami.
---
Dengan hati-hati, Posdaya melepaskan tombol **naik**. Seketika, lift itu mengeluarkan suara mekanis yang sinkron, dan pintu-pintu di depannya terbuka sempurna, mengunci posisinya di lantai dua. Lega, ia melangkah keluar. Pemandangan di baliknya, yang awalnya buram di balik pintu transparan, kini terlihat jelas.
Ia berada di sebuah ruangan yang seluruhnya terbuat dari keramik berwarna biru dan ungu. Ribuan pilar heksagonal menjulang tinggi, dihiasi lampu-lampu neon klasik yang berkelip seperti **glow stick**. Atmosfernya terasa seperti kolam renang di dunia lain, dengan dinding yang seolah-olah tak berbatas. Ia melangkah beberapa kaki ke depan, dan jantungnya berdebar kencang. Ruangan itu sangat dalam. Ini bukan kolam tak berair dan tak berdasar, pikirnya. Seharusnya jarak dari lantai satu ke lantai dua tidak sedalam ini.
Rasa takut akan kedalaman mulai mencekik, tetapi ia berusaha menenangkan diri. Logikanya, jika ini bukan dunia nyata, berarti ia bisa bebas dari segala aturan. Tidak ada bahaya, tidak ada kematian. Ia adalah tuannya di sini.
Posdaya mencoba mencari petunjuk. Ia berjalan mengelilingi tempat itu, tetapi setiap sudut hanya menampilkan pemandangan yang sama—ruangan yang begitu besar, yang mungkin bisa memicu fobia bagi siapa pun yang takut pada ruang atau kedalaman.
Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke lift. Meskipun ia berasumsi tidak bisa mati, ia tetap tidak ingin sembarangan. Bertemu monster lain bukanlah hal yang ia inginkan. Ia menoleh ke atas. Aneh, lorong lift yang sebelumnya tak berujung kini tertutup oleh plafon klasik berwarna putih.
---
Dengan sedikit ragu, ia kembali menekan tombol **naik** dan terus menekannya sampai lift berhenti di lantai tiga. Pintu terbuka, menampilkan pemandangan yang tak ia duga: sebuah **supermarket**. Rak-rak penuh dengan produk, tersusun rapi seperti di mal. Ia berjalan ke ujung ruangan, tertarik pada jendela kaca super lebar yang membentang seperti di bandara.
Meskipun suasananya terlihat seperti malam hari, tidak ada lampu mobil atau lalu lintas di luar. Rasanya seperti berada di sisi mal yang belum dibangun. Hal yang paling aneh adalah, ada beberapa orang di sana—karyawan yang menata rak dan pembeli yang mendorong troli. Posdaya menganggap mereka sebagai **NPC**, karakter tanpa pikiran di dunia virtual ini.
Tenggorokannya terasa kering. Ia mengambil sebotol soda oranye rasa jeruk berukuran 1 liter dan berjalan santai menuju lift, tidak berniat membayar. Namun, tiba-tiba, seorang penjaga mal menghadangnya.
"Bayar dulu, Nak," kata penjaga itu, tatapannya dingin.
Posdaya panik. Ia tidak punya uang di dunia ini. Tapi, seolah-olah keajaiban, sebuah botol soda cola 1 liter tiba-tiba muncul di dalam lift, di samping pintu. Ia mendapat ide. Dengan cepat, ia menukar botol soda oranye di tangannya dengan botol cola yang tiba-tiba ada. Penjaga mal itu menerima pertukaran aneh tersebut dan membiarkannya pergi.
Ketika ia kembali ke dalam lift, memegang botol cola, Posdaya berpikir keras. Mengapa orang-orang tadi terasa begitu nyata? Sikap penjaga mal itu, ekspresinya... "Aku kan di realita aneh," gumamnya pada dirinya sendiri. "Aku bebas!" Ia mencoba meyakinkan dirinya, tetapi rasa was-was mulai merayap di benaknya.
---
Posdaya terus memikirkan cara untuk bertahan hidup di dunia aneh ini. Ia tahu ia mungkin tak bisa kembali, tetapi satu-satunya jalan adalah mencari tahu apa yang terjadi. Realitas aneh ini akan terus berubah, dan ancaman-ancaman tak menentu menantinya. Sambil lift kembali ke titik asal, Posdaya hanya bisa berharap ia bisa menemukan jawabannya di tengah-tengah kekacauan ini.
____________________________________
Chapter 1 amat
Terimakasih
💵 Dukungan Finansial 💵
https://saweria.co/GARTAWARA
🔍 Link tree 🔎
https://linktr.ee/gvochanel
Komentar
Posting Komentar