PART 3 : Reuni


METAVERSE-G
PART 3 : Reuni
gartawara entertainment

Cahaya putih terang menyilaukan sejenak, meninggalkan jejak pening di kepala Sasha dan Bagas. Mereka, bersama Puppet yang ekspresinya tetap datar namun aura keberadaannya terasa lebih kuat, telah melintasi retakan dimensi yang dipicu oleh Astralian. Di belakang mereka, portal berdenyut pelan, menutup. Mayol, dengan topeng dominan dan kartu misteriusnya, telah tertinggal—sengaja atau tidak, itu masih menjadi pertanyaan. Misinya jelas, dan ia telah menempatkan Sasha, Puppet, dan Bagas di jalur yang baru.

Kini, mereka berada di sebuah ruang yang tampak seperti jembatan antar dimensi, atau mungkin sebuah simulasi persiapan. Di hadapan mereka, berdiri sesosok yang tak asing lagi bagi pembaca, namun baru bagi para anak-anak itu: **Dom**. Sosok bertopeng putih yang sempat mereka kira Astralian di Episode 1, kini menampakkan wujud aslinya sebagai agen. Topengnya yang dulu menyeringai menakutkan, kini terlihat lebih tenang, namun tetap tanpa ekspresi. Auranya memancarkan otoritas yang tak terbantahkan.

"Selamat datang," suara Dom terdengar, memecah keheningan di ruang temaram itu. "Ujian kalian baru saja dimulai."

Dom berbalik, dan di belakangnya, sebuah tirai energi transparan terbuka, menyingkap barisan demi barisan individu yang tak kalah aneh. Mereka adalah para trainer, atau mungkin lebih tepatnya, para peserta ujian lain yang telah dikumpulkan—dari berbagai dimensi dan latar belakang—untuk misi yang akan datang. Tatapan Dom seolah berkata, *kalian tidak sendirian*.

Di antara kerumunan itu, mata Bagas membelalak. Ia mengenali dua sosok yang berdiri tegak. "Sandi! Setyo!" serunya, ada campuran kelegaan dan kebingungan dalam suaranya.

**Sandi**, dengan postur tubuh yang tenang dan tatapan mata yang cerdas, memiliki kepribadian bernalar yang kuat. Ia adalah tipe yang akan menganalisis setiap situasi, mencari logika di balik kekacauan. Di sampingnya, berdiri **Setyo**, sosok yang lebih pendiam, dengan aura melankolis seorang anak sebatang kara yang telah belajar untuk mandiri di tengah kesulitan. Mereka berdua adalah teman-teman Bagas, dan kini mereka telah ditarik ke dalam labirin multidimensional ini.

Lalu, sebuah pemandangan yang tak kalah mencengangkan muncul. Di barisan yang sama, berdiri sosok yang kontras. Ini adalah **Munthe**, dari seri ZBS 2, sebuah entitas yang bisa digambarkan sebagai prajurit berwajah katak putih bermata api. Sosok Munthe memancarkan kekuatan dan bahaya; ia adalah tokoh antagonis di seri sebelumnya, dan entah bagaimana, kini ia digabungkan kemari, berdiri bersama para calon peserta misi, seolah telah direkrut atau dipaksa untuk berpartisipasi. Kehadirannya menimbulkan pertanyaan besar: mengapa seorang musuh lama ikut serta dalam ujian ini?

Sasha merasakan jantungnya berdebar. Di samping Munthe, ia melihat tiga wajah yang sangat ia kenali. Mata mereka bertemu, dan senyum lega samar terukir di wajah Sasha. Ini adalah teman-temannya dari masa lalu, setelah insiden Seri ZBS 1 ketika Sasha tinggal dan dirawat di kampung mereka.

Yang pertama adalah **Poly**, seorang anak perempuan dengan rambut keriting dan mata berbinar. Poly memiliki kekuatan istimewa untuk menciptakan Embun—kemampuan yang tampak lembut namun bisa menjadi vital. Di sebelahnya, berdiri **Giz**, seorang anak laki-laki yang terlihat tenang dan bijak melebihi usianya, dengan tatapan yang selalu mencari solusi. Dan terakhir, ada **Breo**, si anak gembala yang selalu setia dengan hewan peliharaannya. Breo memegang erat tali tuntunannya, dan di sampingnya, berdiri dengan tenang **Pesal**, sapinya yang berwarna putih, sapi kesayangan Breo, yang entah bagaimana juga berhasil ikut terbawa kemari.

Tiba-tiba, sebuah portal baru beriak dan terbuka di dinding ruang transparan itu, memancarkan cahaya keemasan yang hangat. Semua mata tertuju ke sana. Dari balik portal, muncullah beberapa orang, melangkah maju dengan keyakinan yang berbeda-beda.

Yang pertama keluar adalah seorang anak laki-laki dengan topeng putih. Topengnya memiliki pola ekspresi yang dominan tebal dan tetap, memberinya aura misterius sekaligus otoritatif. "Mayol!" seru Bagas, mengenalinya. Ya, ini adalah **Mayol**, anak laki-laki bertopeng yang mereka tinggalkan sebelumnya. Kehadirannya menimbulkan pertanyaan: apakah ia juga bagian dari ujian ini, ataukah ia memiliki tujuan lain?

Di belakang Mayol, melangkah seorang pria tua yang tampak bijaksana namun lelah, dengan kacamata bertengger di hidungnya. Ini adalah **Wak Sidol**, seorang pria tua yang berasal dari cerita ZBS 1, pasca kejadian yang melibatkan Sasha. Matanya menatap ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan, seolah terbiasa dengan hal-hal aneh.

Selanjutnya adalah **Yoto**, rekan tim laki-laki Mayol. Yoto adalah sosok yang menarik perhatian; ia mengenakan jaket kuning cerah, dan mata kirinya memiliki kelainan—pupil yang sangat besar—sehingga harus ditutupi oleh teknologi pengurangan cahaya yang canggih. Ia melangkah dengan energi yang meluap, memancarkan kepribadian yang cukup *hyperactive*, seolah kegirangan berada di tengah situasi absurd ini.

Terakhir, melangkah dengan anggun adalah **Lusi**, rekan tim perempuan Mayol. Ia memiliki ciri-ciri rambut cukup panjang yang menutupi satu bagian wajahnya, memberikan kesan misterius. Wajahnya pucat, dan auranya memancarkan kepribadian yang cukup sinis, tenang, dan cuek—ibaratnya, ia terlalu malas untuk menjadi ceria.

Keempat pendatang baru itu melangkah mendekat, bergabung dengan kelompok yang sudah ada. Tatapan mereka menyapu kerumunan yang beragam itu. Setelah beberapa saat hening, Mayol mengangkat tangannya, memberi isyarat agar rekan-rekannya memperkenalkan diri.

"Aku Mayol," katanya, suaranya tetap datar di balik topengnya.
"Saya Wak Sidol," pria tua itu mengangguk hormat.
"Yoto! Senang bertemu kalian semua!" seru Yoto dengan semangat berapi-api, sedikit membungkuk.
"Lusi," ucap gadis itu singkat, dengan nada malas dan sinis, bahkan tanpa berusaha menatap mata lawan bicaranya.

Dom, sang agen bertopeng dengan seringai menakutkan, melangkah maju ke tengah. Ia memandang semua yang berkumpul di sana—Bagas, Sasha, Puppet, Sandi, Setyo, Munthe, Poly, Giz, Breo (bersama Pesal), Mayol, Wak Sidol, Yoto, dan Lusi. Kerumunan yang benar-benar tak terduga, percampuran dimensi dan cerita yang absurd.

"Dengan berkumpulnya banyak orang-orang dari tempat yang berbeda-beda ini," Dom memulai, suaranya resonan dan penuh keyakinan, "maka ancaman yang akan kita hadapi akan secepatnya tersolusikan." Sebuah janji, sebuah motivasi, atau mungkin sebuah manipulasi, tergantung dari sudut pandang siapa. Dom melihat ini sebagai sebuah kesempatan, sebuah ujian yang telah dirancangnya.

Namun, Mayol tidak semudah itu menerima. Anak laki-laki bertopeng itu melangkah maju, memotong narasi Dom. Tatapan di balik topengnya terlihat tajam, penuh keraguan. "Solusi ini," Mayol berkata, suaranya mengandung nada peringatan yang dingin, "belum sepatutnya dipercaya."

Di tengah ketegangan yang menggantung, Puppet yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara. "Apa... tujuan kita dikumpulkan?" tanyanya, suaranya datar, namun mengandung rasa ingin tahu yang mendalam tentang inti dari semua kekacauan ini.

Belum sempat Dom atau siapa pun menjawab, tiba-tiba berbagai macam retakan energi muncul dari atas mereka. Retakan dimensi tersebut bercahaya terang, membelah langit-langit ruang simulasi itu. Dari balik cahaya yang memekakkan mata, muncul berbagai macam prajurit tempur. Mereka turun bagaikan air terjun, berjatuhan dari portal-portal yang terbuka, mengerubungi kelompok besar tersebut dengan cepat.

Selanjutnya, para prajurit itu bersiap dengan berbagai macam senjata mereka. Ada yang menggunakan tombak panjang yang berkilauan, pedang tajam, gada yang terlihat berat, bahkan beberapa di antaranya mengacungkan pistol dengan laras yang asing. Wajah mereka tersembunyi di balik helm atau topeng, menampakkan niat menyerang yang tak terbantahkan. Aura permusuhan segera menyelimuti ruangan.

Dalam situasi genting tersebut, kekacauan mulai terjadi di antara para penyerbu. Tiba-tiba, beberapa prajurit ada yang terlempar secara misterius dan berteriak, seolah terkena serangan tak terlihat yang memberi isyarat adanya kekuatan lain yang turut campur.

Dom, melihat situasi ini, tersenyum bangga di balik topengnya. "Kita akan aman," katanya dengan nada penuh percaya diri, seolah semua ini sudah sesuai rencana. "Tetapi jangan sampai lengah." Sebuah peringatan yang mengisyaratkan bahwa meskipun mereka mungkin aman dari kehancuran total, ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kelengahan adalah kemewahan yang tak bisa mereka miliki.

--------------------------------------

PART 3 Tamat


💵 Dukungan Finansial 💵

https://saweria.co/GARTAWARA



🔍 Link tree 🔎

https://linktr.ee/gvochanel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S1/E4 : Bidang cahaya

ZBS 3 : Seven Scion

S1/E1 : Tempat tinggal baru