S1/E5 : Memanen
S1/E5 : Memanen
gartawara entertainment
Setelah insiden barusan, Puppet terduduk di tanah, menangis tersedu-sedu. Ia mendekap ransel yang kini kosong, seolah masih bisa merasakan keberadaan buku di dalamnya. Air matanya mengalir deras, bercampur dengan debu di wajahnya yang kotor. "Tanpa petunjuk di ransel itu," isaknya, "aku tidak akan bisa pulang. Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa."
Zect berlutut di depannya, menenangkan. "Tenang, Puppet," katanya lembut. Ia mengusap punggung Puppet, mencoba menyalurkan ketenangan. "Mungkin pencurinya tidak tahu apa yang ada di dalam ranselmu. Barang curian itu tidak akan dibawa jauh. Bisa saja dia mengembalikannya secara diam-diam begitu dia sadar isinya tidak berharga."
Meskipun kata-kata Zect menenangkan, kekhawatiran Puppet tidak hilang. Ia mengangkat pandangan, menatap Zect. "Bagaimana kalau aku membawa masalah bagi kalian?" tanyanya, suaranya bergetar. "Aku ini aneh, aku tidak berasal dari sini. Kalian sudah banyak membantuku. Aku tidak ingin membebani kalian lagi."
Zect terkejut mendengar pengakuan itu. Ia menatap Aloca sejenak, lalu kembali menatap Puppet. "Dengar, Puppet," kata Zect dengan senyum meyakinkan. "Kita semua menerima kamu apa adanya. Kita tidak akan membiarkan kamu sendirian."
Aloca mendekat, ekspresinya melunak. "Kalau begitu, nanti sore kita berdua saja yang mencarinya," usulnya, nadanya kini lebih lembut dari biasanya. "Kalau tidak ketemu juga, kita lapor polisi." Ia menatap mata Puppet, "Sekarang kamu kelelahan. Pergilah istirahat."
Puppet mengangguk, menerima tawaran itu, lalu bergegas menuju kamar.
Di balik pintu, Zect dan Aloca saling berhadapan. "Aku rasa kita harus bicarakan ini," kata Zect, suaranya serius. "Untuk saat ini, sebaiknya kita tidak berkelahi. Kamu lihat sendiri betapa tertekannya Puppet."
Aloca memasang raut wajah sinis. "Kamu bicara begitu seolah kamu ingin membawa Puppet bersamamu selamanya. Seolah kamu ingin menang dalam segala hal."
"Aku tidak pernah ingin menang, Aloca," sangkal Zect, suaranya sedikit meninggi. "Itu bukan keinginanku. Itu keberuntungan."
Perdebatan kecil pun terjadi, masing-masing mempertahankan argumennya. Zect terus berusaha menengahi, mengajak Aloca berdamai demi Puppet. "Tolong, Aloca. Untuk saat ini, mari kita kesampingkan semua masalah kita. Kita fokus bantu Puppet. Dia butuh kita berdua."
Melihat Zect yang begitu serius dan mengingat betapa rapuhnya Puppet tadi, hati Aloca luluh. Ia menghela napas panjang, mengangguk setuju. "Baiklah. Untuk saat ini, tidak ada perkelahian."
---
Sore pun tiba. Setelah Puppet bangun, ia melihat pemandangan yang tak biasa. Aloca sedang membersihkan lantai tanah rumah, sementara Zect sibuk menyiapkan makan malam. Mereka makan bersama dalam keheningan yang nyaman, mengisi perut sebelum memulai pencarian.
"Ingat," kata Zect sambil memberikan jubah usang kepada Puppet. "Identitasmu harus tertutup."
Puppet mengenakan jubah itu. Kainnya terasa kasar, penuh dengan jahitan dan tambalan yang berbeda warna, seolah-olah jubah itu telah melalui perjalanan panjang. Ia terlihat seperti gumpalan kain berjalan, tapi ini satu-satunya cara untuk menyembunyikan identitasnya.
Mereka bertiga keluar, Aloca memimpin. Lingkungan sekitar rumah mereka masih asri, dengan medan yang cukup sulit. Setelah berjalan sebentar, mereka tiba di sebuah tanggul. Di samping kiri terhampar sawah luas yang hijau, sementara di kanan adalah lereng curam menuju sungai yang deras. Airnya terlihat tinggi, hampir meluap.
Tiba-tiba, dari seberang sungai, terdengar suara tangisan yang samar-samar. Untungnya, sebuah jembatan kayu berada tepat di depan mereka, memungkinkan mereka menyeberang.
Mereka menemukan sumber suara itu: seorang petani tua sedang meratapi kebun kopinya yang terendam air. Menyadari kehadiran mereka, petani itu buru-buru mengusap air matanya seolah tidak ada yang terjadi.
"Maaf, Pak, kami dengar suara tangisan. Apa yang terjadi?" tanya Puppet.
Petani itu akhirnya menceritakan masalahnya. Kebun kopinya terendam air. "Ini kopi robusta. Tidak tahan air. Kalau sampai malam ini tidak diselamatkan, panen saya gagal total."
Zect menatap Aloca dan Puppet. "Kita akan bantu Bapak ini?"
Awalnya, Aloca ragu, tapi melihat wajah lelah dan putus asa petani itu, ia mengangguk. "Ya, kita harus bantu."
"Tapi ada satu kendala," kata Zect. "Kita tidak tahu luas kebun ini, jadi kita tidak bisa memperkirakan volume airnya."
Puppet tiba-tiba memiliki ide. Ia teringat jurnalnya dan langkah-langkah yang ada di dalamnya. "Pak, berapa panjang dan lebar kebun ini?" tanyanya pada petani.
"Panjangnya sekitar 50 meter dan lebarnya 30 meter," jawab petani.
Puppet segera berhitung. "Kalau begitu, luasnya **$50 \times 30 = 1.500$ meter persegi**!" Matanya berbinar. "Dan kedalaman airnya sekitar satu mata kaki, atau 0,3 meter." Ia melanjutkan perhitungan. "Jadi, total volume air di sini sekitar **$1.500 \times 0,3 = 450$ meter kubik**!"
Petani itu terkejut. "Sebanyak itu? Tidak mungkin saya bisa mengurasnya sendiri!"
Aloca lalu menyadari sesuatu. "Kita tidak harus mengurasnya, kita panen saja biji-bijinya!"
"Tapi biji yang terendam..." kata Puppet.
"Biji yang terendam mungkin tidak bisa tumbuh lagi," sahut petani. "Tapi kita bisa coba menyelamatkan yang masih di pohon. Menyelamatkan benih lebih baik daripada mengobati akar pohon yang sudah terendam."
Mereka setuju. Petani memberikan kain dan tongkat untuk menjatuhkan biji-biji kopi dari tangkainya. Biji-biji itu mengapung di air, dan mereka mengumpulkannya menggunakan ember yang sudah dilubangi. Ada keong yang bertengger di daun, belalang yang melompat-lompat, dan tawa Aloca yang tak sengaja terpeleset, membuat bajunya basah kuyup.
Setelah biji-biji berhasil dipanen, Zect menghitungnya. "Setiap ember yang penuh mewakili **5%** dari total panen, dan kita berhasil mengumpulkan 13 ember. Jadi, **$5\% \times 13 = 65\%$** dari panen Bapak terselamatkan!"
Petani itu sangat berterima kasih. "Mengapa kalian lewat di sini?" tanyanya.
Puppet hampir menjawab, tapi Zect menyela. "Kami hanya jalan-jalan, Pak." Ia lalu bertanya tentang jejak kaki.
Petani itu menunjuk ke lokasi jejak sepatu dan bekas seretan yang sama persis seperti yang mereka bicarakan. "Ini?" Petani itu menatap mereka. "Untuk apa?"
Zect tidak ingin memberitahu, dan beralih ke Aloca yang sudah mulai menggigil kedinginan. Puppet, tanpa ragu, melepas jubahnya dan menyelimuti Aloca. Petani itu terkejut, namun mengira Puppet adalah seorang "maskot" yang sedang bekerja.
Mereka berpamitan, membatalkan pencarian ransel untuk malam ini.
Sesampainya di rumah, Zect bertanya, "Bagaimana kalau kita mencarinya lagi malam ini?"
Puppet menggeleng. "Tidak usah. Kita sudah terlalu lelah, dan kita sudah membantu orang lain. Masih ada hari esok."
Sore itu pun ditutup dengan makan malam yang hangat, menyisakan harapan yang baru bagi mereka bertiga.
____________________________________
Chapter 5 tamat
Terimakasih
💵 Dukungan Finansial 💵
https://saweria.co/GARTAWARA
🔍 Link tree 🔎
https://linktr.ee/gvochanel
Komentar
Posting Komentar